Tampilkan postingan dengan label JFW 2010/2011. Tampilkan semua postingan

Jakarta Fashion Week 2010/2011 Sneak Peak

JWF 2010/2011 memang sudah usai, tapi semangat dan kesannya tentunya masih berbekas, baik bagi saya, maupun bagi segenap industri fashion nusantara. Tentunya, effort 1 minggu penuh tim femina group dalam menyelenggarakan acara ini sungguh sangat luar biasa. Dan tentunya, mungkin, saat ini, ketika post ini ditulis, mereka tengah menyiapkan the next Jakarta fashion Week 2011/2012, who know.

But anyway, setelah seminggu "melepas" kepergian JFW, dan memakai berbagai goodie bag hasil press release dari JFW (yup, sangat usable skali goodie bagnya: tas, tas, dan tas haha! Thanks for all sponsor and lomba blog JFW yang sudah ngasih kartu pers ke saya!), saya jadi kepingin menghangatkan lagi tentang topik ini. Well, gak gitu banyak sih, cuma link-link dari artikel yang saya buat sebelumnya. Meski demikian, jika gak menemukan post-ini, bisa dilihat di menu latest post :). So, inilah JFW's article sneak peak:


    Btw buat yang gak tau, saya gak ngeliput hari pertama soalnya gak boleh sama panitianya. Dan, liputan ini bisa terjadi karena saya masuk 12 finalis Lomba Blog Jakarta Fashion Week 2010/2011. Saya sendiri hanya meliput acara-acara yang terjadi setelah pukl 18.00 wib, soalnya saya hanya bisa melakukan peliputan setelah jam kerja usai. Meski selama seminggu heboh mengejar bis ke Tangerang tiap larut malam (thank Allah yang menciptakan bis 45 masih ada sampe jam 11 malam), tapi gak nyesel deh. Meski kaki terasa pegal baru setelah seminggu acara usai, saya yang tadinya buta fashion jadi lumayan belajar, walopun masih gak pinter-pinter amat. 

    Dengan ini juga mau ngucapin makasih ke pihak-pihak yang sudah melancarkan saya selama liputan, tim femina dan azura activation buat acaranya, sponsornya, tim virtual yang udah merelakan saya pulang cepet selama seminggu, ibu-ibu penata rambut dari sunsilk yang pulang se-taxi bareng, arale yang udah ditebeng buat nginep, farin yang udah nemenin makan pancake, yuri dan dita teman seperlomba blog-an,   Fani penjaga stand Mazda yang udah mau diajak ngobrol selama nunggu orang, etc,etc. Thanks all! gak lupa buat Gifa, Kriya ITB 2007!!! Selamat ya udah jadi pemenang LPA kategori sepatu. Sayang saya gak bisa hadir di shownya.

    Dan oleh karena itu juga, thanks buat yang udah mampir ke blog ini, selamat membaca! Happy surfing!

    Jakarta Fashion Week 2010/2011 : The Signature

    Jumat kemarin, 12 November 2010, merupakan hari terakhir pelaksanaan Jakarta Fashion Week 2010/2011. Liputan yang saya angkat (dan hanya angkat) mengenai Dewi Fashion Knight show yang juga sekaligus official closing dari JFW tahun ini. Dewi Fashion Knight ini memang merupakan ritual rutin sejak 2 JFW sebelumnya. Kali ini Dewi Fashion Knight mengambil tema Style Spectrum.
    Diwakili oleh 5 orang desainer terpilih : Tex Saverio, Ari Charisma, Stella Rissa, Kiata Kwanda, dan Priyo Octaviano, the Style Spectrum merupakan bentuk apresiasi pada perbedaan, karakter, dan dinamisasi desainer. Ni Luh Sekar (editor in chief Majalah Dewi) mengatakan kelima desainer ini dipilih karena karakternya yang kuat yang diimplementasikan fashion dalam gaya yang kaya sehingga membebaskan spirit perempuan dalam berbusana. “Keindahan perbedaan itulah yang kita rayakan  tahun ini,” ungkapnya pula.

    Left to Right: Tex Saverio Kiata Kwanda (gak keliatan), Ali Charisma,
    Ni Luh Sekar, Stella Rissa, Priyo Octaviano
    Kali ini, untuk pertamakalinya saya akan membahas sedikit *yeah, sedikit, karena saya masih newbie* tentang fashion yang diperagakan di atas catwalk. Yups, JFW ini jadi kayak semacam pendidikan kilat buat “getting know Indonesian Fashion” buat para awam, maupun para expertise, bagi buyer, maupun bagi desainer. JFW itu pengayaan. But before that, I need to tell something that will be written in the end of this post. So, keep reading :)

    Bidding by Miranda Gultom dan ibu2 
    Sebelum dimulai, DFK didahului oleh lelang fashion peduli. Terdapat 3 baju yang di lelang: Lennor dari Lenny Agustin, Carmanita, dan Oka Diputra. Baik pakaian Oka maupun Lenny terjual dengan angka 6 juta rupiah (dengan opening bid 3 juta dan interval tiap 10%). Sementara desain dari Carmanita berhasil menyumbang 30 Juta *gile* untuk Fashion Peduli ini. Dua wajah familiar mewarnai tarik-tarikan biding dari baju carmanita ini: Manohara *dan dia sudah sangat kurus sekarang!* sebagai pemenang biding, dan Miranda Gultom, mantan Gunbernur Bank Indonesia. Huwooh.

    Baju 30 juta *_*
    Jika dilihat, peragaan Style Spektrum ini memiliki alur yang (sebetulnya) simple: from the most wearable till the hardest to wear. Tiap desainer memiliki 10 koleksi yang ditampilkan, kecuali Tex Saverio yang hanya menyajikan 8. Loh, kok? Mau tau? Yuk..

    Ali Charisma


    Mengambil konsep war culture, Ali Charisma menampilakn intrikasi Kriya Nusantara. Inspirasinya kali ini datang dari Jawa, khususnya Jogjakarta dan Belanda dan disajikan dalam balutan sutra Thailand, satin, organza, dan renda.


    To be honest, yang saya perhatikan utama selain bajunya adalah rambutnya. Kenapa? Perhatiin deh, kita bisa membuat tebak tebakan “kepala siapakah itu”? Yang saya cermati yang jelas ada bentuk topi eropa (macam topi Cornellius gitu), rambut keriting pipa-nya eropa, topi Judge Bao (itu loh, hakim film cina jaman baheula). Mau ikutan tebak-tebakan?

    Tebak Rambut Siapa!



    Stella Rissa


    FEMINIM. Satu kata itu betul betul menggambarkan rangkaian desain kali ini. Terlepas ada beberapa yang bergaya byish, saya yakin siapapin yang mengenakan karyanya akan terpancar aura wanitanya. Sungguh cantik. Karya Stella Rissa memang mengambil tema Woman’s Posessions yang (katanya) menggunakan pendekatan dekonstruktif dan arsitektural. Saya bilang “katanya” soalnya saya gak ngerti dimananya :P Kalau kata Dita, karyanya stella itu selalu meleka cantik di tubuh, bahannya, potongannya. Well, gak heran sih. It really really DID! Salah satu karya yang menyihir saya di show kali ini.
    Stella menganalogikan Women’s possession kedalam suatu proses, dimana wanita tersebut baru bangun tidur, hingga jenjang pernikahan. Mungkin penahapan yang aneh, yet she described it verry well in the show.
    Beautifully sexy in good way ;)


    Secara alur show, selain menekankan pada tahapan tadi, Stella menyimpan 2 desain di akhir untuk disajikan bersamaan : Pernikahan. Konsepnya memang kedua mempelai yang berjalan. Tapi nendang banget dah cara penyajiannya juga. Very love the design indeed. Kalo kata BBM orang sebelah saya *gak sengaja kebacaa*, desainnya sudah jauh lebih dewasa. Well done stellarissa!

    Kiata Kwanda

    FYI, Kiata Kwanda itu dari awal sudah mempunya platform khusus dalam mendesain karya-karyanya: dari SEPOTONG KAIN saja. Yup, berbeda dari desainer pada umumnya yang mengeksplorasi model dari potongan pola, Kiata Kwanda justru tidak terdiri atas potongan pola, melainkan 1 helai kain panjang yang telah dipotong sedemikian rupa lalu dibentuk menjadi pakaian. Kalau kata Ni Luh Sekar, Kiata sudah punya fanatik fansnya sendiri. Kalau kata saya, Kiata Kwanda itu sekte :p




    So, masih dengan platform yang sama, kali ini Kiata Kwanda memberikan sentuhan yang sedikit berbeda. Kali ini, kainnya 2, tapi potongannya sama. Dua kain ini diwujudkan dalam bentuk depan belakang. Mengambil tema Pure Line, desain desain Kiata betul betul menggambarkan tema ini dengan lugas. Simplicity desain dan detail pengerjaan adalah kekhasannya. Menggunakan material sutra hitam sebagai palet utama, Kiata memberikan sedikit aksen dibalik balutan kemurnian warna hitam.

    Priyo Octaviano

    Ini bukan show pertama Priyo di Jakarta Fashion Week 2010/2011. Sebelumnya Priyo hadir di panggung BNI Cita Tenun Indonesia: Cita Warna Bumi sriwijaya (LIINK) pada hari Senin (8/11/10). Di Dewi Fashion Knight malam ini, Priyo mengangkat tema The Glory. Priyo yang religius menekankan bahwa kehidupan perempuan tak melulu dilingkupi kebahagiaan. Disana juga ada kesedihan perjuangan dan cobaan hidup. Disanalah dualisme wanita terlihat. Oleh karena itu, Priyo mendeskripsikan hal ini kedalam detail yang berbeda karakter untuk bagian depan baju dan bagian belakang baju, woll & sutra vs gypsum. Yups, gypsum alias gips, yang biasa buat tangan patah atau bikin patung. Tone dari karyanya masih modern dan feminim. Sementara pemilihan warna putih atau polos merupakan bentuk kemurnian, kesucian, sebagai bentuk kembali ke pada-Nya.
    Depan

    Belakang
    Bagi saya karya Priyo kali ini sangat detail. Warna yang sama dan cenderung putih hanya berbeda tint tidak kemudian membuat pakaian-pakaian ini menjadi monoton. Details play the rule here! Dan detailnya gak main main loh…

    *untuk karya priyo ini, saya mupeng bgt sm baju terahir..

    The last, the most georgeus one, Tex Saverio.

    Desainer muka manga (komik jepang) ini *oh, yeah, mukanya super duper tipikal karakter ideal cowo di manga* menyajikan 8 desainer yang . . . . . . .  (indescribable). Mengusung tema Le Glaçon atau The Icicle, saya hanya bisa bengong ngeliat shownya. Bukan bengong gak ngerti, tapi bengong super duper takjub. Tex menggunakan material yang berbeda untuk tiap helaian pakaian yang dia buat. Gak hanya kain, dia bahkan menggunakan teknik laser cutting. Wohaa. ‘Hanya’ menyajikan 8 desain, lewat show ini, dibungkam deh yang protes kenapa cuma 8. Kelewat KEREN!






    Suasana show diwarnai hembusan dry ice dan AC super dingin. Hmm, memang sengajakah si AC ini biar makin in touch sama suasana es yang dingin dan kontradiktif? Ketika desain ke-dua nya mulai berjalan di ataas catwalk, hanya 1 yang saya pikirkan: Queen of Ice, Narnia. Dan makin kebelakang queen ice nya makin jahat. Oh I do really hope that he become the wardrobe of the heollywood film like Narnia… His design is a way tooooo cooool! (harfiah dan non harfiah :P) Dan desain ini betul-betul membuka mata saya bahwa yang tadinya bagi saya sebuah desain itu harus wearable dan usable itu salah. Desain yang mungkin gak wearable di kesempatan-kesempatan ordinary memang BUKAN untuk itu. Tapi bisa buat film, teater, dsb. *Maafkanlah kebodohan saya ini yang baru ngeh tentang hal ini sekarang.

    The Magnificent Ice Queen


    Epilog

    Merayakan kekayaan perbedaan.

    Apa makna 1 kalimat itu? Tanpa melihat konteks yang telah saya tulis sebelumnya, maka mungkin bahkan anak kecil sekalipun akan memikirkan 1 kata: Indonesia. Bahkan tiap perbedaan dapat dibuat pengaktegorisasian yang masing-masing dari itu memiliki perbedaan perbedaan lagi. Let say, perbedaan kuadrat. Jika Indonesia merayakan perbedaan, akan berapa lamakah?
    Imagine. Jika tiap kategori perbedaan dirayakan selama 1 hari, berapa lamakah waktu yang kita butuhkan untuk merayakan perbedaan? Sebutlah (secara umum yah) perbedaan bahasa, perbedaan suku, perbedaan wilayah, perbedaan pulau, perbedaan bentang alam, perbedaan baju daerah, perbedaan kain daerah, perbedaan rumah adat, perbedaan kebiasaan (yang tiap kebiasaan dapat di pecah menjadi perbedaan kecil lagi), perbedaan agama, perbedaan……
    Kita gakan habis dalam diversity. Baik itu bio diversity, culture diversity, dan sebagainya. Apakah setahun cukup? We don’t know yet. Ada yang bisa membantu menyebutkan semua? Mana tau dapat menghasilkan sesuatu.

    So, perbedaan adalah identitas. Jangan disama-samakan dan jangan menyerupai. Tiap-tiap hal ini bukalah sidik jari,yang memang berbeda tapi kita tidak dapat melakukan perubahan maupun penggubahan atasnya. Perbedaan ini adalah tanda tangan, signature, yang goresan tiap orangnya berbeda, tarikan garisnya, bahkan tintanya, tapi intinya, sang penanda tanganlah yang memegang penanya. Kita memiliki kekuasaan atas semua goresan. Ini artinya kita memiliki kekuasaan penuh untuk mengolah, dan tinta kita adalah keberagaman yang kita bisa pilih apa, sedangkan pena beserta matanya adalah bentuk dari fashion, mau dituangkan dengan sentuhan apa? Dan menghasilkan tanda tangan, orisinil bagi tiap orang, dan menghasilkan suatu perbedaan baru lagi. What a diversity!
    Dengan begitu banyak variasi tinta yang dimiliki Indonesia, dan berbagai pena dan mata pena yang dimiliki oleh para fashion designer , maka beralasankah jika mereka menghasilkan karya yang serupa? Maka keserupaan itu datangnya adalah dari kemalasan otak seseorang untuk berpikir dan keserupaan adalah pembodohan. Well eventhough sometimes designer/someone thing about the same thing, the implementation should be different.

    The way to be richer is by creating more and more diversity. Perbedaan yang menghasilkan perbedaan. Perbedaan kuadrat. 220 juta tanda tangan orang Indonesia bahkan bisa melakukan tandatangan yang berbeda jika kertasnya beda, penanya beda, atau waktunya beda. Oleh karena itu,jangan malu atau malaas membuat perbedaan kuadrat ini. Karena itulah emas abadi yang kita miliki.

    Jakarta Fahion Week hanyalah salah saty bentuk implementasi dari transformasi budaya, yang menjaga budaya itu sendiri tetap lestari. Budaya bisa lestari jika terus diketahui, terus digunakan, dan terus dikembangkan. Masih banyak peluang pengembangan dalam bentuk lain. Terimakasih kepada Jakarta Fashion Week 2010/2011 yang makin meneguhkan identitas fashion bangsa ini. Teruskan perjuangan, kembangkan Indonesia. Maju terus industri fashion Nusantara!

    Jakarta Fashion Week 2010/2011: LPM, The Benchmark (?)

    Hari ini saya menghadiri 1 show saja: LPM Graduates: The Style Maker. LPM Graduates di Jakarta Fashion Week 2010/2011 ini ssebetulnya merupakan kali yang pertama sejak JFW diadakan. Show ini menghadirkan kreasi 7 desainer alumni LPM dari berbagai angkatan, dari mulai yang tertua hingga yang termuda. Tersebutlah Chossy Lattu (1st winner LPM 1979), Itang Yunasz (2st winner LPM 1981), Carmanita (LPM 1987), Denny Wirawan (LPM 1993), Billi Tjong (Most Favorite n 2nd winner LPM 2005), Andreas Odang (LPM 2005), dan Eny Ming (LPM 2007).

    Pemilihan para desainer ini pun tak sembarangan. Femina group, sebagai penyelenggara, mengajak sejumlah fashion editor dari majalah lain untuk jug amenentukan siapa-siapa mereka yang akan naik dalam 1 catwalk malam ini. Pihak femina group sendiri melakukan hal ini sebagai benuk keterbukaan, dan bawa untuk menekankan bahwa LPM ini memamng milik industry mode Indonesia, tak terbatas di kalangan femina group saja.

    Chossy Lattu | LPM 1979

    Tadinya ketika disebutkan eksplorasi tenun, saya kira akan melihat koleksi yang sama dengan BNI Cita Tenun show yang lalu. Ternyata, meski berbahan dasar sama, Chossy menggunakan benang yang berbeda dan menjadikan desaiinya yang ini tetap kuat nuansa Eropa namun dengan tekstil nusantara.




    Itang Yunasz | LPM 1981



    Carmanita | LPM 1987




    Tentang LPM

    Lomba Perancang Mode (LPM) yang diselenggarakan oleh Femina Group dapat dikatakan sebagai ajang perlombaan pertama yang bertujuan untuk menyaring bakat-bakat desainer mode di Tanah Air. Dimulai sejak tahun 1979, ajang ini kini menjadi semacam benchmark bagi perkembangan industri mode tanah air. Bagaimana tidak, Carmanita (LPM’87) mengungkapkan bahwa kurang lebih 70% dari orang-orang penting yang mewarnai indutri mode tanah air saat ini merupakan jebolan dari LPM—meski dalam perkembangannya tidak semua pakem dalam dunia desain-nya, melainkan juga merambah pada sektor pengajar, kritikus, juga pemerhati. Berarti sejak awal beridirinya, LPM kini telah menginjak usia 31 tahun, sebuah angka usia yang matang. Dengan prestasi dan kematangan yang telah terbentuk, LPM merupakan sebuah tanggung jawab sekaligus beban kalau kualitasnya merosot, ungkap Carmanita juga. Hmm, apakah sudah saatnya LPM ini kini dibuka menjadi suatu acara yang tidak secara eksklusif dari femina yah? Bukan berarti femina lepas 100% dari ini, tapi rasanya yang namanya industry mode tanah air gak fair kalau hanya dibebankan ke pihak femina saja. Ini sebetulnya merupakan tanggung jawab bersama. Any suggestion?



    Denny Wirawan | LPM 1993




    Well, jangan sekedar menganggap LPM hanya sebagai ajang mencari award. LPM is more than that. Bukan soal kalah menang yang diraih tapi apresiasi terhadap karya-karya desain yang terpilih. Andreas Odang (LPM 2005) mengatakan bahwa dengan mengikuti LPM memudahkan dirinya unutk lebih dikenal oleh media, dari mulai hanya sekedar ditanya ada koleksi baru atau enggak, sampai request tertentu untuk tema desain tertentu.


    Billy Tjong | LPM 2005



    Eny Ming | LPM 2007



    Tas yang dibawa2 bisa jadi rompi
    Hasil jadi salah satu nya
    LPM awalnya diadakan setiap tahun, tapi mulai tahun 2000-an, perhelatan lomba mode paling akbar di Indonesia ini diselenggarakan 2 tahun sekali. Loh, kenapa? Dari pihak femina sih mengatakan yang penggantinya setiap selang waktu itu ada Lomba Perancang Aksesoris (LPA). Fair enough. But by the way, hal ini sebetulnya kalau dilihat sih memang bener juga. Dinamisasi dan perkembangan perubahan (nampaknya) akan jauh lebih beragam. Bukannya apa-apa, dari proses mikir, eksplorasi bahan, pengerjaan/eksekusi jika diberi waktu yg cukup panjang kan tentu lebih maksimal. Terutama dalam hal eksplorasi, time does matter. :)

    Okay, lets enjoy the Photos, shall we?

    Jakarta Fashion Week 2010/2011: Finding Hero

    Sebelumnya, selamat hari pahlawan semuanya :D Jayalah bangsa Indonesia dan tanamkan pada diri kita masing-masing bahwa tiap orang memiliki benih kepahlawanan. So, daripada si topik pahlawan cumin separagraf ini aja, gimana kalau kita sambungin sekalian sama JFW? How? Simak terus aja :)

    Hero (apple dictionary) is a person, typically a man, who is admired or idealized for courage, outstanding achievements, or noble qualities: a war hero. Hmm, sebenarnya saya ngerasa pengertian itu kurang tepat sih di era sekarang. Dalam pengertian saya, pahlawan adalah implementasi dari cinta akan sesuatu. Kecintaan itu dijawantahkan dalam bentuk dedikasi dan kontribusi. Poin penting dari seorang pahlawan adalah bahwa yang dia lakukan tidak serta merta memberikan hasil positif bagi dirinya saja, melainkan orang lain di sekitarnya. Dan tentunya pahlawan itu adalah spesifik, gak ada tuh namanya pahlawan dalam segala hal. Pahlawan perang kan dengan perangnya, KH Ahmad Dahlan dengan pemikiran pembaharuannya, Soekarno dengan kepemimpinannya, and so on. So, jangan ngarep jadi pahlawan jika kita belum bisa menemukan suatu kata deskriptif mengenai apa yang kita perjuangkan. Dan juga, usaha dari pahlawan ada yg sifatnya sebentar namun dampaknya sangat besar (misal mati di perang tapi jadi bisa menduduki markas musuh) atau merupakan sesuatu yang bertahap, lama, dan konsisten. Jadi apa yang saya sebutin di atas adalah syarat wajib pahlawan *kok macem syarat wajib shalat ato semacamnya yah -_-“

    Terkait dengan pahlawan, pasti ada urusan sama perjuangan, atau perang. Perang itu terlalu harfiah, dan kurang relevan sama era sekarang (terlepas masih adanya beberapa bagian dunia yang sedihnya masih dalam situasi peperangan). Perjuangan kan terjadi bisa karena ada pertentangan atau ketidaksesuaian. Dan sepatutnya perjuangan adalah menuju ke tahap yang lebih baik.

    Tapi percaya atau enggak, kita tiap hari menghadapi peperangan loh. Tapi bukan peperangan senjata yah. Trus perang apa? Perang yang kita hadapi tiap harinya adalah perang identitas, perang budaya, perang brand, yah, apapun nama lainnya, nangkep kan maksudnya? Perang antara budaya kita sendiri dengan neo-kolonialisme dari Barat. Budaya nasional vs budaya global (atau budaya barat)? Berhubung saya orang iklan, saya paham mengenai politik pencitraan atas produk, baik yang benar adanya maupun semata-mata semu. Tapi, ya itu. Identitas bangsa adalah perjuangan kita saat ini. Indonesia itu apa?

    Terkait dengan JFW, dan pahlawan tentunya, sempat keluar istilah pahlawan fashion. Hmm, entah kenapa saya ngerasa istilahnya kurang pas. Perjuangan belah mana? Kalau disebut dengan pahlawan budaya-yang berkontribusi dalam bidang fashion, that sounds better :D Anggaplah dari JFW ini kita akan menemukan pahlawan-pahlawan budaya Indonesia, yang membrikan kontribusi dalam melestarikan dan menumbuhkan kembali identitas bangsa. Banyak yang sudah melakukan melalui karya-karya mereka: Oscar Lawalatta, Chossy Lattu, dan lain-lain. Tapi ada 1 orang, yang seperti saya sebutkan harus memiliki syarat wajib, yang nampaknya sudah bisa diberikan gelar pahlawan : Ghea Panggabean.

    Ghea Panggabean, telah berkarya selama 30 tahun, era yang lama bahkan untuk industri apapun itu. Pada masa mulanya, idenya adalah sebuah gebrakan revolusioner. Dan semuanya berawal dari hanya 1 : rasa cinta terhadap fashion Indonesia. Dan dalam 30 tahun perjalannanya, pikiran ini telah menjangkiti cikal-bakal pahlawan baru untuk negeri ini. 30 tahun adalah bukti dari bentuk dedikasi dirinya, dengan karakter yang khas yaitu penggunaan kain motif tradisional dan konsisten di jalur pakaian yang wearable.

    Ghea menungkapkan bahwa saat ini, untuk menjadi besar cenderung lebih mudah. Telah banyak wadah-wadah penyalur kreatifitas bagi para desainer fashion, salah satunya JFW ini. Dengan adanya wadah-wadah ini, desainer lebih mudah untuk berbira dan bergerak mengenai fahion yang digelutinya. Tapi memang untuk menemukan “sesuatu”, seseorang harus dituntut untuk melihat value lain selain value material (uang), seeing the unseen, dalam kasus ini akar budaya (karena hal inilah yang selama ini Ghea lakukan.
    Lalu untuk menjadi desainer kaliber dunia? Ghea menceritakan tentang kisah Kenzo. Kenzo setelah lulus kuliah, langsung settle di Paris. Meski perjlanannya memang tidak mudah, tapi harus dari sanalah memang mulanya jika ingin dianggap dunia. Dan Ghea mengatakan, dengan umurnya yang sekarang ini, sudah sangat sulit untuk mengikuti jalan seperti yang Kenzo lakukan. Jadi katanya, jika ingn ada yang mau terbit sebagai kelas dunia, ke Paris lah. Baru dari sana ke manaa, gitu. For some reason, I half agree.

    Paris, meski bukan maksudnya kalau di Paris pasti jadi beken yah, memang dijadikan parameter. Dan ibaratnya jika kita ke paris, kita adalah mendatangi target market (internasional). Bukan salah, tapi dengan era perdagangan global macam saat ini, sebetulnya ada cara yang lebih praktis namun (nampaknya) bisa efektif dan mengena ke banyak pihak. Instead of sending the designer to Paris and live there till they success, which we don’t know when it will be happened, why don’t we support a bunch of designer to have a store spot on paris and periodically visit to Paris it self. Bukannya apa-apa, kalau mereka di Paris, kan mereka pengen menginternasionalkan style dari Indonesia, tapi mereka makin jauh dari sumber bahan baku, lha makin susah. Yang jelas memang spotting disananya juga jangan sembarangan, harus disupport juga dengan promosi yang ok. Men, ini udah tinggal how you deliver the message to the world to paris. So, buatlah si Indonesia lounge itu se eskis mungkin dan seberkualitas mungkin. Dampaknya, bukan hanya nama 1-2 desainer yang terangkat, tapi juga INDONESIA sebagai sebuah ikon baru dunia mode. Bener gak? Jadi si perahu ini berawakan banyak pahlawan, gak cuman 1, jadinya more stable, more power to reach the land of fashion popularity.

    So, back to Ghea, bagi beliau, Bohemian selalu menjadi inspirasi. Inilah juga yang selalu mewarnai desainnya selama 30 tahun ini. Dimulai dari 1980, saat ini, Ghea, merupakan salah satu ikon fashion Indonesia. Mengenai Ghea kids, sebetulnya produk ini telah ada sebelumnya, dan merupakan kerjasama antara Ghea dengan adiknya. Namun sepeningal adiknya nikah, lambat laun, Ghea semakin ketetran dan memutuskan untuk memvakumkan genre ini. Kini, dengan bantuan dari anak-anaknya dan segenap tim Ghea Fahion, brand ini hendak dimunculkan lagi. Soon, tahun depan. Tunggu saja, berbekal dengan pengalaman 30 tahun, segmen brand Ghea kids ini tentunya akan memiliki “sesuatu”.

    Terakhir

    Konsistensi mungkin merupakan kata lain dari stamina, hal yang jarang dimiliki oleh orang-orang terkecuali jika dedikasinya terhadap sesuatu. Generasi Y (generasi sekarang) terkenal akan kesulitannya settle down dan cenderng terus bergerak. Dinamis gak masalah, selama konsistensi itu dijalankan. Mari kita lihat, seberapa banyakkah desainer0desainer muda kita yang handal namun memiliki cukup stamina seperti Ghea dan menjadi pahlawan-pahlawan budaya bidang fashion lainnya. Selamat hari pahlawan!

    *photo report menyusul yaps. Dihajar meeting seharian trus tau-tau udah harus ke JFW lagi *_* . Smangat laah!

    Jakarta Fashion Week 2010/2011: Giliran Yang Muda Yang Bicara

    Last night I was attending 2 shows: Sunsilk Walk of Creations and Cleo Fashion Award. By the way, nampaknya hal yang sama terjadi diantara para finalis lomba blog Jakarta Fashion Week 2010/2011 : gak langsung nge-post artikel malam langsung setelah acara JFW hari itu selesai. Well, gimana enggak, kemarin acara terbilang molor lagi sama dengan pelaksanaan kemarin lusa. Padahal tadinya saya dan Yuri optimis akan "hanya" ngaret setengah jam, ternyata -_-" Dari jadwal semula yang mana acara penganugrahan CLEO Fashion Award diadakan jam 20.30 WIB, akhirnya baru dimulai kurang lebih pukul 21.30 WIB. Pfft... Jadi wajar dong kita semua rada tepar (lagi) :p. So, here we go!


    Sunsilk Walk of Creations menggandeng 7 desainer muda berbakat, merupakan kumpulan dari pemenang Lomba Perancang Mode (LPM) dari berbagai angkatan. Angka 7 sendiri dibuat senada dengan line-nya Sunsilk sekarang, dimana Sunsilk menggandeng 7 pakar rambut dunia sebagai bentuk re-launch produknya. FYI, ini adalah kali ke dua Sunsilk menjadi sponsor di Jakarta Fashion Week. Bentuk kontribusi Sunsilk dalam bidang fashion juga didasari oleh rambut, yang mana sebagai mahkota khususnya wanita, merupakan salah 1 unsur penting pendukung penampilan. Rambut sendiri menegaskan identitas dari karakter fashion yang diangkat. Intinya, kalau rambutnya gak aksimal, belum totalitas lah. Kurang lebih hal itu yang diungkapkan Albert Januar, Finalis LPM 2009.


    Ngerasa gak sih ada perubahan nafas dari Sunsilk? Bisa dibilang kita (generasi saya) adalah generasi yang tumbuh dimana Sunsilk telah dikenal. Dari mulai shampo yang terkesan sangat wanita, dari sedikit varian hingga 7 seperti saat ini, dari botol lurus, oval, sampe langsing kaya sekarang, Sunsilk telah bertransformasi. Dulu, Sunsilk hanya mengajarkan pada kita bagaimana menjaga rambut agar tetap sehat (mostly using shampoo and conditiener). Tapi Sunsilk yg kini gak sekedar maju sebagai defense rambut, tapi sekaligus penyerang. Maksud saya bukan nyerang bikin rambut jelek lho, tapi sekarang Sunsilk juga udah punya kaya Wax, dan beberapa produk hair styling lainnya. Ibaratnya sekarang, melindunginya bahkan dari awal, ketika rambut itu sendiri dibentuk. Offense is the best deffense, hahaha. 


    Bersama para rekan media yang menang doorpize
    By the way, Chris Oey sebetulnya memfasilitasi para pers yang ingin menggunakan produk Sunsilk Leave On di booth nya mereka secara gratis. Tapi berhubung saya pake jilbab...errr... But anyway, ada 1 pertanyaan yg membekas di ingatan sih. Satu pewarta dari majalah muslimah bertanya mengenai sunsilk yang dulu diformulasikan khusus bagi para wanita berjilbab sekarang kenapa gak ada. Chris Oery sih menjawab produknya si hijau itu, cuma memang ikon gambar wanita muslimah diganti dengan pakar rambut. Secara esensi produk, produk itu berfungsi buat deep cleansing, jadi bersih sebersih-bersihnya. Jangan heran kalau habis keramas ujungnya kering, karena (katanya) memang kotoran dan minyak disikat habis oleh formula. Makanya pake conditioner langsung abis itu, dan dari TENGAH bukan dari pangkal rambut, soalnya pangkal rambut cenderung lebih berminyak(many people apply it with wrong way. No wonder they can't overcome their hair problem). Gara-gara itu langsung deh jadi ..ooo, buleet. Kukira dia akan men-deny soal kekeringan akibat keramas, ternyata itu memang salah satu yang implikasi normal. Dan 1 lagi, SERUM pake di UJUNG aja (yang kering pastinya)! Jangan semua-mua rambut. Entar jadi super berminyak. Hmm, baru tau..


    *terus udah banyak aja gituh ini postingan, padahal belum masuk materi fashion show nya o.O


    So, seperti judulnya, hari ini fashion show yang saya hadiri terasa sangat berbeda dari 2 hari sebelumnya, dimana di hari Minggu dan Senin, para desainer seniorlah yang mewarnai kancah catwalk JFW. Seperti yang disebutkan di atas, ada 7 desainer, alumni LPM yang digandeng oleh Sunsilk. Mereka adalah Albert Yanuar, Bethania Agustha, danny Satriadi, Hian Tjen, Imelda Kartini, Kursien Karzai dan Yunita Kosasih.Sementara itu, peragaan di Cleo Award dimeriahkan para nominator penghargaan, merupakan sebuah apresiasi terhadap brand lokal.




    Cleo Fashion Award yang (baru) dimulai pukul 21.30 WIB, merupakan ajang penghargaan bagi para vendor-vendor retail Internasional. Penghargaan ini double objektif, dari pembaca (CLEO Readers Choice Awards) dan dari redaksi sendiri (CLEO Choice Awards.) Brand-brand umum yang dikenal mewarnai penghargaan ini seperti Banana Republic, GAP, Marc Jacobs. Hmm, kalo kata teman saya sih (saya gak punya kompetensi untuk ngomentarin hal ini soalnya :P ), ini bukan hal yang baru dan not that special juga. :| Benarkah? Saya sih gak tau. But anywaw, yang menang The Best Work Wear Cleo Choice Award kan G2000 yah (sementara yang Reader Choice Award itu Banana Republic), respon dari orang-orang di sekitar seat saya adalah "what?" "eh masih ada yah?" "iya, gue kira merk itu udah gada.." Hmm, yah, paling tidak si CLEO Awards ini berhasil ngangkat nama G2000 jadi di-ngeh-in sama orang-orang. Meski sudah turun populartiasnya, dengan award ini Cleo ngasih tau kita kalau popularity doesn't mean less quality. Thumbs Up.




    Pembacaan awards bisa dibilang rombongan, 1 kali host naik ke atas panggung, langsung menyebutkan pemenang dari beberapa kategori tanpa menyebutkan nominasi. Cukup kilat. Peragaan busana juga menselang-selingi pembacaan award. Ada astrid, Resida Irmine, dan Dina Vahada sebagai nominator penerima penghargaan desainer muda berbakat, dan Twentyforteen, Noonio, Cotton ink, Stab, Danjyo Hyoji sebagai nominator brand lokal paling inovatif. Selain peragaan busana sendiri, audience di hibur oleh live DJ during the 1st show (duh maap lupa aku gak tau namanya...) dan  Kikan (gak bersama cokelat) *wah, udah lama banget gak liat mba Kikan, dan suaranya tetep yahud!


    Vahada


     
    Andin pun ikut menyemarakan Cleo Awards 2010
    Kikan

    Pemenang dari desainer muda berbakat adalah Vahada dari Dina Vahada dan Cotton Ink sebagai pemenang brand lokal muda paling inovatif. List nominasi dan pemenang dari Cleo Choice dan Readers Choice Awards bisa langsung dilihat di web JFW. Sebagai orang yang sangat awam dibidang ini, maka saya bertanya opini teman saya mengenai si penghargaan dan koleksi ini.
    Here are our Local Winner
    Dari saya

    Kalau pendapat dari saya yang awam ini , saya sih ngerasa ini beda banget soul-nya sama desainer 2 hari kemarin. Hampir seluruhnya memang merupakan konsumen bahan, bukan produsen bahan. Para desainer muda yang terlihat disini desainnya bernafas "internasional" (saya bingung mau nyebut modern, karena beberapa ada yang nyoba back to vintage juga, mungkin bisa disebut modern dengan acuannya gak ada unsur tradisional Indonesia). Tapi ya itu, mungkin karena masih terbilang junior di kalangannya, eksplorasi ide sih jangan ditanya, tapi karakter bahan belum. But anyway, nampaknya tiap desainer memang punya primadona sendiri untuk bahan-bahan yang dipergunakan (kalo saya liat dari desain-desainnya yaa, trmasuk yg gak ditampilkan). Tapi ya itu, secara modernnya kerasa, tapi secara identitas Indonesia's touch, gak berasa. But anyway, sebenarnya gak masalah. Emang tergantung goalnya dari awal toh.Gak semua karya desainer Indonesia mesti wajib ada unsur Indonesia-indonesianya. Yang penting cuma 1: ide nya orisinil otak orang Indonesia. Betull?? cmiiw

    **
    To be concerned 
    Dua foto diatas sih yang ku sorot bukan bajunya, tapi insiden-insiden selama show kemarin.
    (atas) untuk model dengan baju renang, nampaknya harus lebih selektif untuk memilih proporsi berdasarkan kaki model
    (bawah) terlihat tampangnya itu gak pol gimanaa gitu akibat dia sibuk mikirin biar bisa jalan dengan benar.

    Jakarta Fashion Week 2010/2011: The Eloquent Modernity in Traditional Approach

    Sorry for my late post and the "acakadut" previous unedited post! (I was writing it in the middle of the show using my phone *_* *tepar baru sampe rumah jam 1* 



    Bicara tentang judulnya, The Eloquent Modernity In Traditional Approach, maksudnya adalah hari ini saya melihat suatu keberhasilan besar dari para desainer (yang saya saksikan shownya) dalam mengemas gaya fashion modern dengan menggunakan kain-kain tradisional Indonesia sebagai bahan baku utamanya. Sentuhan modernnya sangat terasa! Tapi yang hebatnya, itu kain songket/tenun/blongsong yang biasa kita lihat loh (dengan sedikit modifikasi)!


    The Show


    Peragaan pertama dimulai dengan introduksi yg SUPER lama (baca: sambutan) sebelum akhirnya peragaan dari 14 muse Yayasan Jantung Indonesia (YJI)  *kyaa susan bachtiar*. Bagi yg (mungkin) gak tau, mereka meninggalkan tent setelah parade muse DAN sayang sekali mereka melewatkan the real show of Ari Saputra, parade 46 busana yg terinspirasi oleh candi Borobudur. y the way,hari ini dresscodenya itu touch of red, tapi yg saya lihat ini sih totally RED. JFW was so totally in red glam. 
    Red Crowd!
    Sebelumnya saya ingin beropini mengenai makna logo YJI dari sudut pandang seorang desainer. saya tersentil karena sambutan yang diberikan oleh   Ibu Ketua 1 YJI.  Beliau mengatakan bahwa simbol dari little red dress adalah bahwa dengan warna merah wanita harus lbh waspada terhadap penyakit jantung. kalau dari sisi saya, baju selain merupakan asosiasi dari  wanita sendiri, juga ada faktor penekanan kedua dimana penyakit jantung itu sesungguhnya sangat dekat dengan wanita, apa lagi dengan semakin banyaknya perokok wanita di Indonesia. Seperti baju, next to our skin, adalah bentuk dekatnya penyakit ini dengan kaum wanita. Cmiiw


    Dibuka dengan lantunan lagu yang merdu....

    The Muses (?)

    Mengenai peragaannya sendiri, karya yang ditampilkan kurang lebih 46 busana yang (nampaknya) dibagi ke Selain scoring (lagu pengiring)  yang mantap, desain desainnya sejujurnya saya sangat suka. Bener-bener kerasa sentuhan baik modern, maupun Indonesianya. Gak cuma batik, Ari Saputra juga menggunakan elemen aksssoris dan bahkan dari baju tradisional itu sendiri. Bener-bener ngebuka hal baru buat saya. KEREN!
    Sebegitu terpananyakah?
    Peragaan selanjutnya, BNI Cita Tenun Indonesia : Cita Swarna Bumi Sriwijaya, molor dari jadwal yang telah diberikan. Peragaan busananya sendiri baru dimulai sekitar pukul 21.30 dan berakhir pukul 23.00. Terdapat  10 desainer yang menampilkan kreasinya di BNI CTI dengan total 90 busana yang ditampilkan dari Bumi Sriwijaya disini. Sebutlah Chossy Latu, Era Soekamto, Oscar Lawalata, Tayada (merupakan gabungan dari 3 orang desainer), Priyo Octaviano, Sebastian Gunawan, Stephanus Hamy, Oka Diputra, dan Denny Wirawan. Kain tenun yang dipergunakan meliputi kain blongsong dan songket. Dari mulai koleksi yang sangat kental nuansa Eropa, lenggak lenggok para model cilik dari Bubble Girl, hingga karya yang *cukup* tribal dari Priyo Oktaviano. Koleksi kali ini juga menampilkan busana untuk berbagai kebutuhan : muda, dewasa, pria, anak-anak, casual, hingga formal. Sungguh membuka wawasan inovasi kain tradisional! *Meen, itu baru dari tenun loh, belum kain-kain tradisional Indonesia lainnya! Bayangkan....
    Ada Sammy!


    Melihat peragaan busana pria di atas (yang dipakai Sammy) sekaligus menikmati lagu Tanah Air dari Rio Febrian diiringi biiola *damn, Ini lagu nasional favorit saya dan selalu merinding dengernya* saya jadi berpikir lebih jauh. Entah sudah ada atau belum, tapi melihat vest sang pemain biola, I Wonder if It is also made from tenun. Mungkin bagi sebagian orang memakai rancangan baju seperti foto diatas is a little to much. So, penyelesaiannya adalah a touch of culture, seperti dasi (udah ada tuh kan dasi batik), vest, saputangan. Hmm, jadi ingin ngasih tantangan ke para pria berjas: show ur Indonesia! Haha.. Jadi dengan ini pula mereka gak hanya kepikiran bahwa untuk memperlihatkan budaya HANYA dengan kemeja batik saja.

    By Priyo Octaviano. Tribal gak sih?


    Dan, bolehkah saya menyebutkan, makin cinta(kuadrat) deh sama Indonesia :P Kayany amakin hari saya makin gak ngerti ada orang yang gak manfaatin potensi kita ini. Terlalu luarbiasa untuk disia-siakan. Dan jangan salah, tiap karya hasil pemanfaatan potensi ini adalah master piece :)
    Pers nya pada heboh :))



    BNI Cita Tenun Indonesia


    Kiri-kanan: Ibu Intan (BNI) - Ibu Intan (CTI) - Chossy Lattu



    By the way, mengenai BNI CTI sendiri, BNI mengembangkan Kampoeng BNI, yang merupakan kampung-kampung di daerah Sumatra yang dibina oleh BNI, dari mulai pendanaan, hingga workshop. Permasalah yang terbilang serupa dengan Oscar Lawalata juga dihadapi oleh Chossy Lattu dan tim BNI CTI : komitmen. Tapi seiring dengan berjalannya waktu, akhirnya keterbinaan hubungan antara masyarakat kampung Indralaya, Sumatra Selatan dengan Chossy Lattu-BNI CTI kian membaik. Meski belum dapat dikatakan sebagai penghasil tenun terbaik, peningkatan kualitas, baik kualitas kerja maupun kualitas kain, dari para pengrajin selama setaun binaan ini mengalami kenaikan yang pesat. BNI sendiri terbilang total dalam kerjasama ini, terbukti dari banyaknya tim yang diturunkan dan servis yang diberikan berdasarkan hal yang diungkapkan Chossy Lattu. Oleh karena itulah, kampung binaan BNI masih terbatas jumlahnya.


    Mengenai inovasi kain tenun yang diajarkan selama workshop difokuskan pada teknik kerapatan benang, pewarnaan, dan kualitas dari penenun itu sendiri. Dengan output yang berbeda (sebagai material untuk interior kah atau untuk pakaian kah), maka pembuatan kain pun direncana sedari awal pembuatan. Marketing pun sedikit diajarkan dan dibantu di workshop ini, selain dalam hal penjualan, BNI mengajarkan juga mengenai efisiensi benang yang dapat menekan biaya produksi 30-60%. 


    Chossy Lattu menekankan bahwa pengrajin adalah menenun BAHAN, bukan menenun kain/selendang.


    Hal yang ditekankan oleh Chossy Lattu adalah mengajarkan menenun BAHAN, bukan menenun kain/selendang. Karena jika para penenun tetap mempertahankan pola pikir ini, maka kain tenun tidak akan sebegitunya praktis untuk diaplikasikan ke bentuk lain. Selain itu, tim BNI CTI dan Chossy Lattu juga mengembalikan faedah pewarna alam sebagai cara pewarnaan untuk benang, selain karena keamanan dan keasliannya, untuk memenuhi sebagai produk yang berstandar Internasional, maka produk tersebut pun harus eco-friedly. Meskipun demikian, pengembangan warna-warna lain yang diluar warna asli dari kain tenun seperti warna pastel juga diajarkan demi memenuhi usability dan kebutuhan pasar. 


    Satu lagi, sebetulnya yang diajarkan di workshop ini bukanlah hal baru, tapi mengingat kembali dari cara dahulu *kinda similar with Oscar*. Yang dilakukan terhadap tenunnya sendiri adalah penggubahan : motif lama dengan skala, warna, dan layout yang berbeda.


    Yang menarik dari rangkain workshop ini adalah selama setahun, kampung pengrajin tidak boleh mengeluarkan hasil pelatihannya dulu keluar. Bukan sok eksklusif atau apa, tapi BNI CTI sendiri menekankan bahwa mereka (pengrajin) harus sudah mengerti dan memahami secara keseluruhan workshop sebelum diaplikasikan. Dengan adanya curi-start, dikhawatirkan kain yang dihasilkan tidak sesuai standar. dan bagusnya lagi, setelah 1 tahun, BNI siap melepas para "ambassador" pengrajin tenun ini dan membebaskan jika ada pengrajin lain meniru sistem dari workshop ini. Yeayy! Ilmu memang untuk semua, bukan eksklusifitas! Salut!




    Terakhir, 


    Mengenai semalam, kawan-kawan pers pada riuh sekali karena acaranya bisa dibilang ngaret banget (bayangkan, baru mulai ketika harusnya jam acara sudah selesai!) dan nampaknya panitia pun juga sudah terbilang cukup lelah (yang terlihat cukup lelah) mengalami situasi yang serupa, apalagi dengan adanya beberapa orang pengunjung mencoba keluar ketika acara sedang berlangsung. Saya dan Yuri (peserta blog lainnya) menyebutnya, "Hap, lalu ditangkap" - ketika ada pengunjung yang mau meninggalkan bangkunya, gak sekedar didatengin tapi langsung ditarik ke pinggir! :D. 


    Selain itu yang mengganjal adalah penyebutan berulang dari sumbangan beberapa oknum ke Femina Peduli (nampaknya itu berupa rekaman). Selama 2 hari pelaksanaan JFW, dana yang terkumpul telah mencapa 850 juta. Meeen, Its HUGE. Tiga hari doang booo. Tapi intinya, bukankah sepatutnya donasi itu tidak diumbar yah? Boleh si di mention siapa aja yang ngasih, tapi gak usah pula sih jumlahnya. Nampak show off gimanaa gitu.. But anyway, semoga tembus ber M-M deh si Femina Peduli ini, demi meringankan beban para korban di Mentawai, Wasior, dan Merapi. I


    By the way, salut buat ketegasan panitia terhadap semua pelaksana dan yang menghadiri Jakarta Fashion Week 2010/2011 ini. Dibilang galak, galak deh, tapi itu baguuus :) Semangat terus buat panitia. Semoga besok-besok acaranya bisa lancar dan on-time biar kita semua bisa sama-sama istirahat. Viva JFW 2010/2011!


    *Buat full photo report di blog sebelah nampaknya pending dulu. Tepar sayah nyah    /(*_*)/
    *Dalam 2 hari ini saya belajar banyak banget! Senang! *meski tepar*


    *tribute to panitia (click to enlarge)

    Menata kotak-kotak dari dapur coklat saat BNI CTI Show.


    Everyone was in a rush. Smangat pak!
    Angkut sana, angkut sini...