Tampilkan postingan dengan label indonesia. Tampilkan semua postingan

Jakarta Fashion Week 2010/2011: LPM, The Benchmark (?)

Hari ini saya menghadiri 1 show saja: LPM Graduates: The Style Maker. LPM Graduates di Jakarta Fashion Week 2010/2011 ini ssebetulnya merupakan kali yang pertama sejak JFW diadakan. Show ini menghadirkan kreasi 7 desainer alumni LPM dari berbagai angkatan, dari mulai yang tertua hingga yang termuda. Tersebutlah Chossy Lattu (1st winner LPM 1979), Itang Yunasz (2st winner LPM 1981), Carmanita (LPM 1987), Denny Wirawan (LPM 1993), Billi Tjong (Most Favorite n 2nd winner LPM 2005), Andreas Odang (LPM 2005), dan Eny Ming (LPM 2007).

Pemilihan para desainer ini pun tak sembarangan. Femina group, sebagai penyelenggara, mengajak sejumlah fashion editor dari majalah lain untuk jug amenentukan siapa-siapa mereka yang akan naik dalam 1 catwalk malam ini. Pihak femina group sendiri melakukan hal ini sebagai benuk keterbukaan, dan bawa untuk menekankan bahwa LPM ini memamng milik industry mode Indonesia, tak terbatas di kalangan femina group saja.

Chossy Lattu | LPM 1979

Tadinya ketika disebutkan eksplorasi tenun, saya kira akan melihat koleksi yang sama dengan BNI Cita Tenun show yang lalu. Ternyata, meski berbahan dasar sama, Chossy menggunakan benang yang berbeda dan menjadikan desaiinya yang ini tetap kuat nuansa Eropa namun dengan tekstil nusantara.




Itang Yunasz | LPM 1981



Carmanita | LPM 1987




Tentang LPM

Lomba Perancang Mode (LPM) yang diselenggarakan oleh Femina Group dapat dikatakan sebagai ajang perlombaan pertama yang bertujuan untuk menyaring bakat-bakat desainer mode di Tanah Air. Dimulai sejak tahun 1979, ajang ini kini menjadi semacam benchmark bagi perkembangan industri mode tanah air. Bagaimana tidak, Carmanita (LPM’87) mengungkapkan bahwa kurang lebih 70% dari orang-orang penting yang mewarnai indutri mode tanah air saat ini merupakan jebolan dari LPM—meski dalam perkembangannya tidak semua pakem dalam dunia desain-nya, melainkan juga merambah pada sektor pengajar, kritikus, juga pemerhati. Berarti sejak awal beridirinya, LPM kini telah menginjak usia 31 tahun, sebuah angka usia yang matang. Dengan prestasi dan kematangan yang telah terbentuk, LPM merupakan sebuah tanggung jawab sekaligus beban kalau kualitasnya merosot, ungkap Carmanita juga. Hmm, apakah sudah saatnya LPM ini kini dibuka menjadi suatu acara yang tidak secara eksklusif dari femina yah? Bukan berarti femina lepas 100% dari ini, tapi rasanya yang namanya industry mode tanah air gak fair kalau hanya dibebankan ke pihak femina saja. Ini sebetulnya merupakan tanggung jawab bersama. Any suggestion?



Denny Wirawan | LPM 1993




Well, jangan sekedar menganggap LPM hanya sebagai ajang mencari award. LPM is more than that. Bukan soal kalah menang yang diraih tapi apresiasi terhadap karya-karya desain yang terpilih. Andreas Odang (LPM 2005) mengatakan bahwa dengan mengikuti LPM memudahkan dirinya unutk lebih dikenal oleh media, dari mulai hanya sekedar ditanya ada koleksi baru atau enggak, sampai request tertentu untuk tema desain tertentu.


Billy Tjong | LPM 2005



Eny Ming | LPM 2007



Tas yang dibawa2 bisa jadi rompi
Hasil jadi salah satu nya
LPM awalnya diadakan setiap tahun, tapi mulai tahun 2000-an, perhelatan lomba mode paling akbar di Indonesia ini diselenggarakan 2 tahun sekali. Loh, kenapa? Dari pihak femina sih mengatakan yang penggantinya setiap selang waktu itu ada Lomba Perancang Aksesoris (LPA). Fair enough. But by the way, hal ini sebetulnya kalau dilihat sih memang bener juga. Dinamisasi dan perkembangan perubahan (nampaknya) akan jauh lebih beragam. Bukannya apa-apa, dari proses mikir, eksplorasi bahan, pengerjaan/eksekusi jika diberi waktu yg cukup panjang kan tentu lebih maksimal. Terutama dalam hal eksplorasi, time does matter. :)

Okay, lets enjoy the Photos, shall we?

Jakarta Fashion Week 2010/2011: Giliran Yang Muda Yang Bicara

Last night I was attending 2 shows: Sunsilk Walk of Creations and Cleo Fashion Award. By the way, nampaknya hal yang sama terjadi diantara para finalis lomba blog Jakarta Fashion Week 2010/2011 : gak langsung nge-post artikel malam langsung setelah acara JFW hari itu selesai. Well, gimana enggak, kemarin acara terbilang molor lagi sama dengan pelaksanaan kemarin lusa. Padahal tadinya saya dan Yuri optimis akan "hanya" ngaret setengah jam, ternyata -_-" Dari jadwal semula yang mana acara penganugrahan CLEO Fashion Award diadakan jam 20.30 WIB, akhirnya baru dimulai kurang lebih pukul 21.30 WIB. Pfft... Jadi wajar dong kita semua rada tepar (lagi) :p. So, here we go!


Sunsilk Walk of Creations menggandeng 7 desainer muda berbakat, merupakan kumpulan dari pemenang Lomba Perancang Mode (LPM) dari berbagai angkatan. Angka 7 sendiri dibuat senada dengan line-nya Sunsilk sekarang, dimana Sunsilk menggandeng 7 pakar rambut dunia sebagai bentuk re-launch produknya. FYI, ini adalah kali ke dua Sunsilk menjadi sponsor di Jakarta Fashion Week. Bentuk kontribusi Sunsilk dalam bidang fashion juga didasari oleh rambut, yang mana sebagai mahkota khususnya wanita, merupakan salah 1 unsur penting pendukung penampilan. Rambut sendiri menegaskan identitas dari karakter fashion yang diangkat. Intinya, kalau rambutnya gak aksimal, belum totalitas lah. Kurang lebih hal itu yang diungkapkan Albert Januar, Finalis LPM 2009.


Ngerasa gak sih ada perubahan nafas dari Sunsilk? Bisa dibilang kita (generasi saya) adalah generasi yang tumbuh dimana Sunsilk telah dikenal. Dari mulai shampo yang terkesan sangat wanita, dari sedikit varian hingga 7 seperti saat ini, dari botol lurus, oval, sampe langsing kaya sekarang, Sunsilk telah bertransformasi. Dulu, Sunsilk hanya mengajarkan pada kita bagaimana menjaga rambut agar tetap sehat (mostly using shampoo and conditiener). Tapi Sunsilk yg kini gak sekedar maju sebagai defense rambut, tapi sekaligus penyerang. Maksud saya bukan nyerang bikin rambut jelek lho, tapi sekarang Sunsilk juga udah punya kaya Wax, dan beberapa produk hair styling lainnya. Ibaratnya sekarang, melindunginya bahkan dari awal, ketika rambut itu sendiri dibentuk. Offense is the best deffense, hahaha. 


Bersama para rekan media yang menang doorpize
By the way, Chris Oey sebetulnya memfasilitasi para pers yang ingin menggunakan produk Sunsilk Leave On di booth nya mereka secara gratis. Tapi berhubung saya pake jilbab...errr... But anyway, ada 1 pertanyaan yg membekas di ingatan sih. Satu pewarta dari majalah muslimah bertanya mengenai sunsilk yang dulu diformulasikan khusus bagi para wanita berjilbab sekarang kenapa gak ada. Chris Oery sih menjawab produknya si hijau itu, cuma memang ikon gambar wanita muslimah diganti dengan pakar rambut. Secara esensi produk, produk itu berfungsi buat deep cleansing, jadi bersih sebersih-bersihnya. Jangan heran kalau habis keramas ujungnya kering, karena (katanya) memang kotoran dan minyak disikat habis oleh formula. Makanya pake conditioner langsung abis itu, dan dari TENGAH bukan dari pangkal rambut, soalnya pangkal rambut cenderung lebih berminyak(many people apply it with wrong way. No wonder they can't overcome their hair problem). Gara-gara itu langsung deh jadi ..ooo, buleet. Kukira dia akan men-deny soal kekeringan akibat keramas, ternyata itu memang salah satu yang implikasi normal. Dan 1 lagi, SERUM pake di UJUNG aja (yang kering pastinya)! Jangan semua-mua rambut. Entar jadi super berminyak. Hmm, baru tau..


*terus udah banyak aja gituh ini postingan, padahal belum masuk materi fashion show nya o.O


So, seperti judulnya, hari ini fashion show yang saya hadiri terasa sangat berbeda dari 2 hari sebelumnya, dimana di hari Minggu dan Senin, para desainer seniorlah yang mewarnai kancah catwalk JFW. Seperti yang disebutkan di atas, ada 7 desainer, alumni LPM yang digandeng oleh Sunsilk. Mereka adalah Albert Yanuar, Bethania Agustha, danny Satriadi, Hian Tjen, Imelda Kartini, Kursien Karzai dan Yunita Kosasih.Sementara itu, peragaan di Cleo Award dimeriahkan para nominator penghargaan, merupakan sebuah apresiasi terhadap brand lokal.




Cleo Fashion Award yang (baru) dimulai pukul 21.30 WIB, merupakan ajang penghargaan bagi para vendor-vendor retail Internasional. Penghargaan ini double objektif, dari pembaca (CLEO Readers Choice Awards) dan dari redaksi sendiri (CLEO Choice Awards.) Brand-brand umum yang dikenal mewarnai penghargaan ini seperti Banana Republic, GAP, Marc Jacobs. Hmm, kalo kata teman saya sih (saya gak punya kompetensi untuk ngomentarin hal ini soalnya :P ), ini bukan hal yang baru dan not that special juga. :| Benarkah? Saya sih gak tau. But anywaw, yang menang The Best Work Wear Cleo Choice Award kan G2000 yah (sementara yang Reader Choice Award itu Banana Republic), respon dari orang-orang di sekitar seat saya adalah "what?" "eh masih ada yah?" "iya, gue kira merk itu udah gada.." Hmm, yah, paling tidak si CLEO Awards ini berhasil ngangkat nama G2000 jadi di-ngeh-in sama orang-orang. Meski sudah turun populartiasnya, dengan award ini Cleo ngasih tau kita kalau popularity doesn't mean less quality. Thumbs Up.




Pembacaan awards bisa dibilang rombongan, 1 kali host naik ke atas panggung, langsung menyebutkan pemenang dari beberapa kategori tanpa menyebutkan nominasi. Cukup kilat. Peragaan busana juga menselang-selingi pembacaan award. Ada astrid, Resida Irmine, dan Dina Vahada sebagai nominator penerima penghargaan desainer muda berbakat, dan Twentyforteen, Noonio, Cotton ink, Stab, Danjyo Hyoji sebagai nominator brand lokal paling inovatif. Selain peragaan busana sendiri, audience di hibur oleh live DJ during the 1st show (duh maap lupa aku gak tau namanya...) dan  Kikan (gak bersama cokelat) *wah, udah lama banget gak liat mba Kikan, dan suaranya tetep yahud!


Vahada


 
Andin pun ikut menyemarakan Cleo Awards 2010
Kikan

Pemenang dari desainer muda berbakat adalah Vahada dari Dina Vahada dan Cotton Ink sebagai pemenang brand lokal muda paling inovatif. List nominasi dan pemenang dari Cleo Choice dan Readers Choice Awards bisa langsung dilihat di web JFW. Sebagai orang yang sangat awam dibidang ini, maka saya bertanya opini teman saya mengenai si penghargaan dan koleksi ini.
Here are our Local Winner
Dari saya

Kalau pendapat dari saya yang awam ini , saya sih ngerasa ini beda banget soul-nya sama desainer 2 hari kemarin. Hampir seluruhnya memang merupakan konsumen bahan, bukan produsen bahan. Para desainer muda yang terlihat disini desainnya bernafas "internasional" (saya bingung mau nyebut modern, karena beberapa ada yang nyoba back to vintage juga, mungkin bisa disebut modern dengan acuannya gak ada unsur tradisional Indonesia). Tapi ya itu, mungkin karena masih terbilang junior di kalangannya, eksplorasi ide sih jangan ditanya, tapi karakter bahan belum. But anyway, nampaknya tiap desainer memang punya primadona sendiri untuk bahan-bahan yang dipergunakan (kalo saya liat dari desain-desainnya yaa, trmasuk yg gak ditampilkan). Tapi ya itu, secara modernnya kerasa, tapi secara identitas Indonesia's touch, gak berasa. But anyway, sebenarnya gak masalah. Emang tergantung goalnya dari awal toh.Gak semua karya desainer Indonesia mesti wajib ada unsur Indonesia-indonesianya. Yang penting cuma 1: ide nya orisinil otak orang Indonesia. Betull?? cmiiw

**
To be concerned 
Dua foto diatas sih yang ku sorot bukan bajunya, tapi insiden-insiden selama show kemarin.
(atas) untuk model dengan baju renang, nampaknya harus lebih selektif untuk memilih proporsi berdasarkan kaki model
(bawah) terlihat tampangnya itu gak pol gimanaa gitu akibat dia sibuk mikirin biar bisa jalan dengan benar.

Parlemenku parlemenmu, cerdas kritisisasi

Tulisan ini sebenarnya antara prihatin sama kesal : prihatin dengan masyarakat sekaligus prihatin dengan parlemennya. Banyak tindak-tanduk parlemen/wakil rakyat kita yang pongah dan membuat jengah masyarakat Indonesia. Hal ini umumnya diakibatkan oleh kelakuan atau kebijakan yang mereka buat. Tapi saya juga seringkali sebal dengan tindakan masyarakat Indonesia yang latah, latah memaki dan memprotes tapi gak tau yang diprotesnya apa, bahkan bagi para akademisi dan kalangan terpelajar sekalipun.

Mungkin udah sering disebut sebagai reformasi kebablasan. Ngomoooong aja semua, gak dikontrol, gak disaring. Sedikit omongan cerdas, lebih banyak omongan provokatif. Gak sekedar soal omongan, reformasi tindakannya kebablasan, yang demo rusuh, yang di dalem parlemen rusuh..Hmmpfh.

Tapi (dgn modus praduga tak bersalah ---halah--) sebetulnya gak sedikit juga para anggota parlemen yang gak "mbelok". Tapi, biasa lah, karena nila setitik, rusak susu sebelanga. Yang belang idungnya, yg disalahin tetep aja orang/badannya. Sama aja kayak DPR, orang-orang yang lalai-nya berapa, yg di cap jelek smua-mua. Semoga memang masih ada bibit orang2 benar di dalam sana. kalau gak ada, entah negara ini mau dibawa kemana.

Sebenarnya ada sedikit ketakutan di dalam diri saya sih (mohon partisipasi anda setuju atau tidak akan kekhawatiran saya). Jika keadaan seperti ini terjadi terus menerus : parlemen dianggap sebagai biang kebobrokan dan masyarakat dengan mudahnya menyalahkan pihak2 tanpa informasi yang relevan, bukan gak mungkin sistem parlemen kita gakan pernah dipercaya lagi sama masyarakat. Yang lebih ngeri lagi, karena masyarakat yang gak jeli ngelola informasi, pihak-pihak yang sebetulnya bersalah dalam merusak tatanan pemerintah sebelumnya malah justru terpilih lagi dengan trik-triknya karena kesalahan di masa lampau hanya dilimpahkan kepada badan, bukan perseorangan. Padahal mungkin jika pandai mengelola informasi, kita bisa memilah mana sbetulnya pemberitaan yang menjurus, mana yang tidak, mana yang sebetulnya (dirasa) bersalah, mana yang bukan. Keadilan dan kritisasi harus datang dari diri kita sendiri.

Dengan laju informasi yang sekarang, kadang saya merasa aksi provokasi menjadi jauh lebih mudah, siapapun targetnya : rakyat kalangan bawah, mahasiswa, tokoh, kalangan atas, dsb. Apa lagi dengan era 2.0 sekarang, semua manusia dapat mengungkapkan pendapatnya di dunia maya (tak terkecuali saya), sementara informasi yang datang itu gak pleketiplek (utuh). Informasi sata ini tuh datang sedikit-sedikit, sepotong-sepotong, lebih mentingin kecepatan waktu daripada validitas berita.

Contohnya aja twitter, yg membatasi dg 140 karakter. Beda penggalan kata, beda pula maknanya. Kita gak tau kan kapan orang melihat si informasi yang disiarkan itu potongan ke berapa-nya. Yang ada kl gak infonya menarik, ato sepemikiran langsung sebar aja, gak di re-check. kalau ada salah, meski informasi bisa disebarkan lagi, kan tidak dapat meng -undo kejadian sebelumnya. Belum lagi target ralatnya belum tentu ada di tempat ketika ralat disebarkan. This world goes so fast dude... Beware for its speed.

Satu contoh yang berkaitan dengan parlemen. yang lagi hot-hotnya nih, soal si studi banding ke negara-negara Eropa kan ya. Yah, seperti yang saya bilang sebelumnya, mungkin diantara lawatan itu ada yang benar, ada yg hanya kedok. Tapi, dari mana kita tahu mana yang benar mana yang kedok? Sebetulnya hal itu bisa kita cermati dengan mengerti awal mulanya: bagaimana si program lawatan ini bisa ada dalam agenda kerja mereka. Gak mungkin kan pergi ke tempat ginian cuma direncanakan dalam sebulan. Semua orang yang pernah ngelola organisasi pasti tau ketika mau mengadakan kunjungan, itu seharusnya ada dalam Program Kerja yang telah diapprove di awal kepengurusan. Justru nih yah, harusnya kita awasi dari awal sini. Harusnya pengajuan rencana ini pun denga perencanaan dan proposal kan? Moso acara ginian insidentil sih. *keplaak* Entah emang saya yang kurang merhatiin ato dari DPR nya sendiri gak sosialisasiin, baik via berita atau media apapun. Tapi yang namanya program ini seharusnya transparansi dari awal.

Mengaca dari kejadian si kunjungan-kunjungan ini, harusnya sih mereka langsung mengklarifikasi secara DETAIL terkait dg kunjungan ini pada mass media. Gak cuman sekedar bilan "mau survei inih, titik" Lha... itu duit rakyat kan yang dipake? Intinya sih transparansi dari siapa aja, tujuan, agenda, dan ketika pulang, langsung kita tagih LAPORAN EVALUASI ACARA. Well, itu harus dipertangung jawabin ke seluruh indonesia loh.. *membayangkan 1 stasiun tv menyajikan LPJ DPR :))* Well, it's better than nothing at all. Tah, kl gitu kan jelas, yg miring bisa dianggap miring, yang lurus bisa tetap dianggap lurus. Harusnya tugas PR (Public Relation) komisi per DPR nih... *eh, tapi mereka punya gak yah?*

Oh iya, kembali ke lawatan dan hubungannya dengan bencana di negeri ini. Seringkali sih saya mikir, ngapain juga orang-orang itu diminta pulang pas ada bencana (bukan karena mereka mending diusir skalian lho). Emang sih, kalau pulang dan mendatangi tkp korban bencana bisa dianggap simpati, but MEEENN, pleeasee, gak sekedar kunjungan doang yg dibutuhin, tapi aksi bukan? BAlik lagi jug ake soal perencanaan lawatan, bahkan mungkin ketika sebelum/mereka baru nyampe, sebanyak apa dana yg telah mereka spend. Hal ini jg bukan hal yang serta merta di cancel. Selain pertemuan, mungkinn sudah ada deal sesuatu yg tak bisa dibatalkan. Dan kalau di cancel terus uangnya ilang aja gituh? In bukan berbicara tentang 1-2 juta rupiah, ini ratusan juta/lebih. Belum biaya tambahan yg harus dikeluarkan karena mendadak di cancel. Hmm. Mending biaya kayak gitunya langsung disalurin ke korban deh daripada ngurus kepulangan mereka. Dan lagi pula, udah ada yg namanya teknologi buat kimuniasi mauupun koordinasi. Gitu aja kok repot. Kecuali memang dia punya jobdesc yg mewajibkan dia ada langsung di lokasi bencana si, ya silakan, tapi kalau cuman pulang hanya untuk menunjukan simpati, hey rakyat, BE LOGIC! Kaya gada staff yg ditinggal disini buat ngurusin sesuatu aja. Ibaratnya kita peduli pada korban bencana wasior, mentawai, etc, gak mesti kita menunjukan kepedulian dgn langsung datang kesana bukan? Ada yg kesana sih, tapi perwakilan. dan hal ini pun berlaku untuk bahasan di atas.

Yah, saya ngaku juga kalo saya telat dan menetapkan diri mulai sekarang menjadi lebih peduli dan kritis atas semua ini. MEngkritisi itu gak cuman bisa protes loh, tapi cerdas dan mengetahui landasannya dari berbagai angle, dan berbagai sumber, baik sebagai subjek, maupun objek.

Semoga kita semua menjadi lebih cerdas dalam mengkritisi .

CMIIW..