Tampilkan postingan dengan label nusantara. Tampilkan semua postingan

Sampah Karimun Jawa Part I

Karimun Jawa, mata hati Pulau Jawa.

Mungkin sebagian besar dari kita telah mendengar kata Karimun Jawa. Apa yang terlintas pertama ketika mendengar kata itu? Snorkeling! Yap, gugusan kepulauan di utara Jawa ini kerap kali dikenal sebagai salah satu tujuan wisata dengan daya tarik utamanya adalah snorkeling (di berbagai pulau), wisma apung, dan penangkaran hiu/penyu. Sudah berapa lama kalian mendengar tentang karimun? Apakabar karimun yang dulu dan sekarang?

Saya sendiri kurang paham sejak kapan wisata karimun ini booming. Yang jelas, saya sih pertama kali dengar sekitar tahun 2006. Tapi 2 taun terakhir ini (2009-2010) nampaknya buanyaaak sekali travel agent yang memfasilitasi paket perjalanan ke pulau ini, dari yang level backpacker sampai yang koper. Fenomena ini juga didukung oleh perkembangan social media, karena sekarang travel2 ini banyak yang basis promosinya di Facebook (meski pada umumnya memiliki website juga). But anyway, akhirnya setelah sekian lama mupeng, 2011 ini, saya, akhirnya, menyentuh juga tanah pasir karimun.

Well, disini saya gak mau banyak cerita soal pesona dan keindahannya. Tons of the stories already spoke by people, either in the real life or in the Internet. I wouldn’t deny those, but I will criticize some and I’ll give you a fact that anyone can’t deny.

Cara saya menyampaikannya adalah dengan per-thought- yang tiap poin ini sebetulnya memiliki korelasi pada simpulan ahir. Tapi sebelumnya, saya kasih bocoran tentang apa.

Masalah klasik: sampah.

------------------1

Ketika sedang di atas Kapal Muria yang (bagi saya) penuh kaya sarden, tiba-tiba terpikirkan:
Karimun Jawa: 6 jam dengan kapal ekonomi, 3 jam dengan kapal cepat. Diperkirakn 8000 penduduk bermukim disana dengan arus sirkulasi wisatawan yang stabil. Penduduk asli secara berkala pergi ke daratan (Jawa) untuk meng”impor” bahan makanan : telur, beras, dan sayuran tahan lama. 

KM muria yang (katanya belum penuh) kali itu diperkirakan dinaiki oleh 400 orang (yang banyak diantaranya gak dapet tempat duduk dan “ngampar”, baik di lantai dek kapal, atap, maupun areal parkir kendaraan). Menurut kesaksian pak penjaga, KM muria bisa lebih penuh lagi: 700 orang. Itu biasanya kala puncak liburan :| kok gak tenggelem ya?

Jika tiap wisatawan seperti saya memegang minuman botol, dan pasti banyak diantaranya membawa cemilan dkk dari “daratan” jawa, maka, apa yang terjadi dengan sampah2 ini begitu kita sampai d karimun?? Berani jamin pulau kecil kaya gitu ga punya TPA yg memadai. Terus? Masa Laut? *gak berani ngebayangin* Kayanya penyelesaian paling singkat di bakar deh 

Conclusion tahap 1 :
Beli aer literan aja, botol nya dipake ulang, dan gak  beli cemilan baru selama perjalanan dan disana, dan sampahnya di taro tas, biar di bawa ke Jawa lagi *saya dan temen2 saya melakukan hal ini

------------------------2
(masih) di KM Muria. Hmm, banyak dari travel agent berbeda-beda. Mereka semua paham laut ga yah, apa yg boleh, apa yg ga boleh?
*buka amplop* 1 stiker, 1 tiket kapal, 1 selebaran ttg terumbu karang. Full teks, A4, 2 kolom. –not that attractive yet they are trying.

--------------------3

6 jam di jalan laut, no AC, tempat sumpek, sebelah ibu-ibu bawa bayi baru seminggu. Dan TV berisiiii..... karokean….wali band, ungu, st12, apapun…6 jam, karokean? Gadakah hal lain yang bisa dilakukan tv itu?

-------------4

Nice weather, calm water. Agenda dari si travel agent kebanyakan snorkeling di berbagai spot, makan siang di pulau, dan makan malam sendiri. Karena seharian mengalungi laut (saya gak bilang samudera karena emang bukan), maka makan siang dibekal dari pulau utama dan dimakan biasanya setelah 1 x snorkeling. 

Makan siang pertama, pulau cemara. Sebuah pulau yang tak berpenghuni.

Mungkin karena sinyal saya sensitip ketika makan siang saya langsung ngeh. Oh hell. O, sterofoaaaaaam. 500 year buat diurai tanah, mau dibuang di karimun belah manaaa? Tapi pas selesai sesi makan siang, dan semua bekas makan dikumpulkan lagi di (oh yah) plastik merah, saya berpositip thinking. Oh, dibawa lagi ke pulau utama meski saya juga pesimis di pulau utama di apain. Then, naiklah saya ke kapal untuk perjalanan ke pulau selanjutnya.

Jeng jeng
Dari jauh saya melihat samar2 merah di kejauhan. Holy shit. They leave the garbage, our garbage … :|

-----------5

Perjalanan, kadang bersih, kadang terdapat bbrp sampah : sendal swallow rusak, chiki-chiki atau pilus, rinso atau molto. 

Konklusi : sampah anorganik kemasan produk rumah tangga dan/atau kemasan makanan


-------6
Ibu-ibu menyiapkan bekal makan siang di dapur homestay. Bekal dibungkus sterofoam.

Hari ke-2, another makan siang session. Kali ini promotor kami udah dihimbau sama teman saya (yg anak bioligi) dan saya untuk tidak meninggalkan sampah di pulau2 kecil.
Fakta 1: tidak diindahkan
Fakta 2 : ketika pulang dan berselisih jalan dg travel lain, ternyata mereka melakukan aksi yang serupa :|

----7

Hanya (sebentar sekali) dikasih hibauan pada wisatawan grup kami agar jangan sampai matahin karang dan hanya hinggap di karang keras. Ok, gw tau karang yg boleh yg mana. Trus gada yg nanya gt karang keras kaya apa?

Fact: gw sering kali menemukan si wisatawan berdiri dan mencoba berdiri di karang yg salah. Dan haleluyaa, guide kami tidak mengingatkan sma sekali. Kalo saya nemu beberapa si langsung dingetin dan sambil mawas diri dimana saya ber-manuver, tapi kan kan kan, saya jg pengen menikmati.

Jadi , salah siapa?

--

Jadi pengen tau, sejauh apa sih permasalahan sampah di pulau ini hunting mode ON
And, here we go: conclusions and suggestion. Ada beberapa keyword yang dapat diambil :

Sampah, sterofoam, makanan siang, jumlah wisatawan, cemilan, botol minum, tv, travel agent, terumbu karang, snorkeling, 6 jam, plastik.

Keywords tersebut juga merupakan core masalah. 

Konklusi singkat : REDUCE, RE-USE: Kurangi, ulangi

Apa yang kurangi? Apa yang gunakan kembali? Anyone?

*to be continued*


Jakarta Fashion Week 2010/2011 : The Signature

Jumat kemarin, 12 November 2010, merupakan hari terakhir pelaksanaan Jakarta Fashion Week 2010/2011. Liputan yang saya angkat (dan hanya angkat) mengenai Dewi Fashion Knight show yang juga sekaligus official closing dari JFW tahun ini. Dewi Fashion Knight ini memang merupakan ritual rutin sejak 2 JFW sebelumnya. Kali ini Dewi Fashion Knight mengambil tema Style Spectrum.
Diwakili oleh 5 orang desainer terpilih : Tex Saverio, Ari Charisma, Stella Rissa, Kiata Kwanda, dan Priyo Octaviano, the Style Spectrum merupakan bentuk apresiasi pada perbedaan, karakter, dan dinamisasi desainer. Ni Luh Sekar (editor in chief Majalah Dewi) mengatakan kelima desainer ini dipilih karena karakternya yang kuat yang diimplementasikan fashion dalam gaya yang kaya sehingga membebaskan spirit perempuan dalam berbusana. “Keindahan perbedaan itulah yang kita rayakan  tahun ini,” ungkapnya pula.

Left to Right: Tex Saverio Kiata Kwanda (gak keliatan), Ali Charisma,
Ni Luh Sekar, Stella Rissa, Priyo Octaviano
Kali ini, untuk pertamakalinya saya akan membahas sedikit *yeah, sedikit, karena saya masih newbie* tentang fashion yang diperagakan di atas catwalk. Yups, JFW ini jadi kayak semacam pendidikan kilat buat “getting know Indonesian Fashion” buat para awam, maupun para expertise, bagi buyer, maupun bagi desainer. JFW itu pengayaan. But before that, I need to tell something that will be written in the end of this post. So, keep reading :)

Bidding by Miranda Gultom dan ibu2 
Sebelum dimulai, DFK didahului oleh lelang fashion peduli. Terdapat 3 baju yang di lelang: Lennor dari Lenny Agustin, Carmanita, dan Oka Diputra. Baik pakaian Oka maupun Lenny terjual dengan angka 6 juta rupiah (dengan opening bid 3 juta dan interval tiap 10%). Sementara desain dari Carmanita berhasil menyumbang 30 Juta *gile* untuk Fashion Peduli ini. Dua wajah familiar mewarnai tarik-tarikan biding dari baju carmanita ini: Manohara *dan dia sudah sangat kurus sekarang!* sebagai pemenang biding, dan Miranda Gultom, mantan Gunbernur Bank Indonesia. Huwooh.

Baju 30 juta *_*
Jika dilihat, peragaan Style Spektrum ini memiliki alur yang (sebetulnya) simple: from the most wearable till the hardest to wear. Tiap desainer memiliki 10 koleksi yang ditampilkan, kecuali Tex Saverio yang hanya menyajikan 8. Loh, kok? Mau tau? Yuk..

Ali Charisma


Mengambil konsep war culture, Ali Charisma menampilakn intrikasi Kriya Nusantara. Inspirasinya kali ini datang dari Jawa, khususnya Jogjakarta dan Belanda dan disajikan dalam balutan sutra Thailand, satin, organza, dan renda.


To be honest, yang saya perhatikan utama selain bajunya adalah rambutnya. Kenapa? Perhatiin deh, kita bisa membuat tebak tebakan “kepala siapakah itu”? Yang saya cermati yang jelas ada bentuk topi eropa (macam topi Cornellius gitu), rambut keriting pipa-nya eropa, topi Judge Bao (itu loh, hakim film cina jaman baheula). Mau ikutan tebak-tebakan?

Tebak Rambut Siapa!



Stella Rissa


FEMINIM. Satu kata itu betul betul menggambarkan rangkaian desain kali ini. Terlepas ada beberapa yang bergaya byish, saya yakin siapapin yang mengenakan karyanya akan terpancar aura wanitanya. Sungguh cantik. Karya Stella Rissa memang mengambil tema Woman’s Posessions yang (katanya) menggunakan pendekatan dekonstruktif dan arsitektural. Saya bilang “katanya” soalnya saya gak ngerti dimananya :P Kalau kata Dita, karyanya stella itu selalu meleka cantik di tubuh, bahannya, potongannya. Well, gak heran sih. It really really DID! Salah satu karya yang menyihir saya di show kali ini.
Stella menganalogikan Women’s possession kedalam suatu proses, dimana wanita tersebut baru bangun tidur, hingga jenjang pernikahan. Mungkin penahapan yang aneh, yet she described it verry well in the show.
Beautifully sexy in good way ;)


Secara alur show, selain menekankan pada tahapan tadi, Stella menyimpan 2 desain di akhir untuk disajikan bersamaan : Pernikahan. Konsepnya memang kedua mempelai yang berjalan. Tapi nendang banget dah cara penyajiannya juga. Very love the design indeed. Kalo kata BBM orang sebelah saya *gak sengaja kebacaa*, desainnya sudah jauh lebih dewasa. Well done stellarissa!

Kiata Kwanda

FYI, Kiata Kwanda itu dari awal sudah mempunya platform khusus dalam mendesain karya-karyanya: dari SEPOTONG KAIN saja. Yup, berbeda dari desainer pada umumnya yang mengeksplorasi model dari potongan pola, Kiata Kwanda justru tidak terdiri atas potongan pola, melainkan 1 helai kain panjang yang telah dipotong sedemikian rupa lalu dibentuk menjadi pakaian. Kalau kata Ni Luh Sekar, Kiata sudah punya fanatik fansnya sendiri. Kalau kata saya, Kiata Kwanda itu sekte :p




So, masih dengan platform yang sama, kali ini Kiata Kwanda memberikan sentuhan yang sedikit berbeda. Kali ini, kainnya 2, tapi potongannya sama. Dua kain ini diwujudkan dalam bentuk depan belakang. Mengambil tema Pure Line, desain desain Kiata betul betul menggambarkan tema ini dengan lugas. Simplicity desain dan detail pengerjaan adalah kekhasannya. Menggunakan material sutra hitam sebagai palet utama, Kiata memberikan sedikit aksen dibalik balutan kemurnian warna hitam.

Priyo Octaviano

Ini bukan show pertama Priyo di Jakarta Fashion Week 2010/2011. Sebelumnya Priyo hadir di panggung BNI Cita Tenun Indonesia: Cita Warna Bumi sriwijaya (LIINK) pada hari Senin (8/11/10). Di Dewi Fashion Knight malam ini, Priyo mengangkat tema The Glory. Priyo yang religius menekankan bahwa kehidupan perempuan tak melulu dilingkupi kebahagiaan. Disana juga ada kesedihan perjuangan dan cobaan hidup. Disanalah dualisme wanita terlihat. Oleh karena itu, Priyo mendeskripsikan hal ini kedalam detail yang berbeda karakter untuk bagian depan baju dan bagian belakang baju, woll & sutra vs gypsum. Yups, gypsum alias gips, yang biasa buat tangan patah atau bikin patung. Tone dari karyanya masih modern dan feminim. Sementara pemilihan warna putih atau polos merupakan bentuk kemurnian, kesucian, sebagai bentuk kembali ke pada-Nya.
Depan

Belakang
Bagi saya karya Priyo kali ini sangat detail. Warna yang sama dan cenderung putih hanya berbeda tint tidak kemudian membuat pakaian-pakaian ini menjadi monoton. Details play the rule here! Dan detailnya gak main main loh…

*untuk karya priyo ini, saya mupeng bgt sm baju terahir..

The last, the most georgeus one, Tex Saverio.

Desainer muka manga (komik jepang) ini *oh, yeah, mukanya super duper tipikal karakter ideal cowo di manga* menyajikan 8 desainer yang . . . . . . .  (indescribable). Mengusung tema Le Glaçon atau The Icicle, saya hanya bisa bengong ngeliat shownya. Bukan bengong gak ngerti, tapi bengong super duper takjub. Tex menggunakan material yang berbeda untuk tiap helaian pakaian yang dia buat. Gak hanya kain, dia bahkan menggunakan teknik laser cutting. Wohaa. ‘Hanya’ menyajikan 8 desain, lewat show ini, dibungkam deh yang protes kenapa cuma 8. Kelewat KEREN!






Suasana show diwarnai hembusan dry ice dan AC super dingin. Hmm, memang sengajakah si AC ini biar makin in touch sama suasana es yang dingin dan kontradiktif? Ketika desain ke-dua nya mulai berjalan di ataas catwalk, hanya 1 yang saya pikirkan: Queen of Ice, Narnia. Dan makin kebelakang queen ice nya makin jahat. Oh I do really hope that he become the wardrobe of the heollywood film like Narnia… His design is a way tooooo cooool! (harfiah dan non harfiah :P) Dan desain ini betul-betul membuka mata saya bahwa yang tadinya bagi saya sebuah desain itu harus wearable dan usable itu salah. Desain yang mungkin gak wearable di kesempatan-kesempatan ordinary memang BUKAN untuk itu. Tapi bisa buat film, teater, dsb. *Maafkanlah kebodohan saya ini yang baru ngeh tentang hal ini sekarang.

The Magnificent Ice Queen


Epilog

Merayakan kekayaan perbedaan.

Apa makna 1 kalimat itu? Tanpa melihat konteks yang telah saya tulis sebelumnya, maka mungkin bahkan anak kecil sekalipun akan memikirkan 1 kata: Indonesia. Bahkan tiap perbedaan dapat dibuat pengaktegorisasian yang masing-masing dari itu memiliki perbedaan perbedaan lagi. Let say, perbedaan kuadrat. Jika Indonesia merayakan perbedaan, akan berapa lamakah?
Imagine. Jika tiap kategori perbedaan dirayakan selama 1 hari, berapa lamakah waktu yang kita butuhkan untuk merayakan perbedaan? Sebutlah (secara umum yah) perbedaan bahasa, perbedaan suku, perbedaan wilayah, perbedaan pulau, perbedaan bentang alam, perbedaan baju daerah, perbedaan kain daerah, perbedaan rumah adat, perbedaan kebiasaan (yang tiap kebiasaan dapat di pecah menjadi perbedaan kecil lagi), perbedaan agama, perbedaan……
Kita gakan habis dalam diversity. Baik itu bio diversity, culture diversity, dan sebagainya. Apakah setahun cukup? We don’t know yet. Ada yang bisa membantu menyebutkan semua? Mana tau dapat menghasilkan sesuatu.

So, perbedaan adalah identitas. Jangan disama-samakan dan jangan menyerupai. Tiap-tiap hal ini bukalah sidik jari,yang memang berbeda tapi kita tidak dapat melakukan perubahan maupun penggubahan atasnya. Perbedaan ini adalah tanda tangan, signature, yang goresan tiap orangnya berbeda, tarikan garisnya, bahkan tintanya, tapi intinya, sang penanda tanganlah yang memegang penanya. Kita memiliki kekuasaan atas semua goresan. Ini artinya kita memiliki kekuasaan penuh untuk mengolah, dan tinta kita adalah keberagaman yang kita bisa pilih apa, sedangkan pena beserta matanya adalah bentuk dari fashion, mau dituangkan dengan sentuhan apa? Dan menghasilkan tanda tangan, orisinil bagi tiap orang, dan menghasilkan suatu perbedaan baru lagi. What a diversity!
Dengan begitu banyak variasi tinta yang dimiliki Indonesia, dan berbagai pena dan mata pena yang dimiliki oleh para fashion designer , maka beralasankah jika mereka menghasilkan karya yang serupa? Maka keserupaan itu datangnya adalah dari kemalasan otak seseorang untuk berpikir dan keserupaan adalah pembodohan. Well eventhough sometimes designer/someone thing about the same thing, the implementation should be different.

The way to be richer is by creating more and more diversity. Perbedaan yang menghasilkan perbedaan. Perbedaan kuadrat. 220 juta tanda tangan orang Indonesia bahkan bisa melakukan tandatangan yang berbeda jika kertasnya beda, penanya beda, atau waktunya beda. Oleh karena itu,jangan malu atau malaas membuat perbedaan kuadrat ini. Karena itulah emas abadi yang kita miliki.

Jakarta Fahion Week hanyalah salah saty bentuk implementasi dari transformasi budaya, yang menjaga budaya itu sendiri tetap lestari. Budaya bisa lestari jika terus diketahui, terus digunakan, dan terus dikembangkan. Masih banyak peluang pengembangan dalam bentuk lain. Terimakasih kepada Jakarta Fashion Week 2010/2011 yang makin meneguhkan identitas fashion bangsa ini. Teruskan perjuangan, kembangkan Indonesia. Maju terus industri fashion Nusantara!

Rumah Jawa




Gempa yang terjadi beberapa waktu silam membuat saya berpikir bangunan mana sajakah yang benar-benar mampu bertahan selepas kejadian tersebut. Tiba-tiba saya teringat dengan pembicaraan tempohari dengan dosen saya mengenai karakteristik rumah yang dimiliki oleh beberapa daerah di Indonesia. Secara spesifik, kami membicarakan mengenai rumah yang berada di Kalimantan Timur, tepatnya Sangatta.

Sangatta adalah kota kecil di Kalimantan Timur, dan data dikatakan salah satu tempat markas operasi Kaltim Prima Coal. Secara sekilas, Sangatta hanya memiliki 1 ruas jalan besar yang memanjang (kalau kata teman saya sih, mirip Indramayu). Lebih jauh, pembangunan kawasan perkotaan Sangatta meliputi penimbunan terhadap banyak derah lahan gambut dan rawa-rawa. Contoh nyata adalah Bukit Plangi.

Bukit Pelangi bukanlah nama kota, tapi merupakan nama kawasan pemerintahan terpadu Sangatta. Pusat pemerintahan dan berbagai instansi kedinasan berpadu disini dalam tatanan kota kecil tersendiri. Bukit Pelangi didirikan di kawasan yang cukup tinggi di tengah-tengah rawa gambut yang merupakan wilayah mayoritas Sangatta. Jalan menuju wilayah ini merupakan jalan yang membelah rawa gambut dan bersifat “pengurugan” kalo bahasa sunda-nya mah (artinya penimbunan). Jalan tersebut memiliki jarak tempuh yang cukup jauh dari jalan utama Sangatta. Sayangnya, beberapa ruas jalan ini saat ini banyak yang telah terendam. Jadi apabila Anda tidak memiliki mobil berketinggian cukup atau mobil 4WD, saya sarankan jangan melewati bagian jalan yan terendam ini.
Sebetulnya masalah ini telah diperkirakan sebelumnya.1Penimbunan wilayah rawa oleh tanah secara logis akan mengangkat ketinggian air di sekitar daerah timbunan. Karena rawa adalah air yang t mengalir maka sebetulnya debit air yang ada cenderung tetap. Tapi masalahnya adalah 1 : apa yang berada di atasnya. Dimana ada jalan, disitu ada lalu-lintas. Dimana ada lalu-lintas disana ada manusia. Dimana ada manusia, artinya ada sumber kehidupan. Ya, saat ini makin banyak rumah yang berdiri di sepanjang jalan menuju Bukit Pelangi. Rumah-rumah tersebut mayoritas berbentuk panggung untuk mengatasi permasalahan air yang menggenang di bawahnya.
Sebetulnya, rumah panggung adalah bentuk asli dari rumah-rumah di Kawasan Kalimantan Timur, khususnya Sangatta. Kenapa? Hal ini berdasarkan topografi dan karakter wilayah yang mendominasi kawasan itu: rawa. Sejak pembangunan Sangatta beberapa tahun silam, pembangunan ini meliputi pembangunan infrastruktur jalan dan perumahan. Namun, sumber tenaga manusia, otak dari perencanaan wilayah tersebut adalah berkonsep tanah Jawa. Apa artinya?

Hal inilah yang diutarakan oleh dosen saya: “Rumah Jawa kok dibawa ke Kalimantan. Ya tenggelam lah!” Maksud dari kalimat ini adalah bentuk rumah itu sendiri beserta tatanan kotanya. Konsep perumahan di Jawa (dan rumah Indonesia pada umumnya) adalah rumah bersemen berdinding bata. Dan dosen saya mengatakan adalh salah jika konsep tersebut diberlakukan di seluruh wilayah di Indonesia. Dan kembali saya diingatkan bahwa pembangunan rumah kawasan Sangatta seharusnya berkonsep rumah panggung. Pembangunan menggunakan konsep rumah bata memang mulai terlihat kekurangannya di sana-sini. Sirkulasi air rawa yang tidak lancar, banyak genangan, air hujan yang tidak mengalir, rusaknya beberapa infrasturktur jalan, dan lain-lain. Hal ini dapat mengakibatkan penyakit (seperti DB dan malaria) dan berpotensi menjadi epidemi (karena permasalah tadi mencakup hampir di seluruh bagian kota). BAiknya rumah system panggung di daerah ini adalah untuk menjanga sirkulasi air rawa tetap lancar sehingga (setidaknya) mash dapat mengalir (sumber penyakit berasal dari air yang tidak bergerak).

Mungkin kita perlu mengkaji kemari bentuk asal rumah di daerah-daerah di Indonesia. Hal ini tak hnaya terkait dengan aspek aestetis saja melainkan aspek ergonomis (fungsi) yang berakibat pada karakter budaya setempat. Coba kita lihat gempa Nias yang terjadi beberapa tahun silam. Rumah-rumah di sana mayoritas hancur tapi anehnya rumah yang bertahan adalah rumah yang berumur 200 tahun. Aneh? Saya jawab: tidak. Rumah yang bertahan tersebut merupakan rumah adat yang memang dilestarikan. Berwujud rumah panggung, rumah tersebut memang benar berusia 200 tahun. Dahulunya, rumah bentuk sepertii iulah yang mayoritas mengisi daerah ini hingga rumah-bata datang. Kenapa berwujud rumah panggung? Berdasarkan informasi setempat, dahulu memang sering terjadi gempa-gempa kecil di kawasan Nias, sehingga dibuatlah rumah panggung. Hmm..dari sini kita dapat melihat, budaya datang dari alam, dan datang dengan penelitian. Mereka memang bukanlah arsitek, tapi mereka tentunya melakukan apa yang saat ini kita sebut research saat membuat rumah tersebut. Riset inilah yang kedepannya berkembang dan tergabung dalam kesatuan budaya setempat.

Saya jadi berpikir kembali tentang bentuk-bentuk rumah di Nusantara. Ada joglo, ada gadang, ada honai (entah kenapa nama 3 rumah tersebut yang terbanyang di kepala saat memikirkan artikel ini). Jadi teringat masa-masa SD dimana kita wajib menghapal baju daerah dan rumah tradisional :D Saya hanya berspeulasi (dan berasumsi) rumah Joglo mungkin terinspirasi dari Jawa dataran rendah yang panas, sehingga membutuhkan sirkulasi udara yang bagus (hal inilah yang menurut saya menyebabkan banyaknya daerah terbuka dan beserta pilar dan langi-langit yang tinggi di tengahnya. Selain itu, mungkin juga ini akibat budaya Jawa yang suka selametan, sekatenan, atau apalah itu namanya sehingga sekat rumah bersifat temporer sehingga bila hendak merayakan sesuatu (saking seringnya) memudahkan untuk ditata.

Lain lagi pikiran saya mengenai rumah Gadang. Beberapa dari rumah gadang digunakan sebagai lumbung beras (hal ini termasuk rumah gadang milik keluarga teman saya). Rumah gadang diciptakan besar karena memang budayanya yang berkumpul di satu rumah. Mungkin kebrsamaan seperti ini sangat dihargai mengingat masyarakat mereka yang hobby merantau ke luar pulau kali yah? Hahhaa..
Dan untuk Honai, saya belum kepikiran apapun….

Hmmh…Indonesia betul-betul kaya, akan aestetik dan fungsi. Orang Indonesia dari dulu pinter meen!! Arsitek pada jamannya! Plus seniman! Combo dah…dan saya harpa sih, hal ini tidak kembali di-klaim Malaysia sebagai kepunyaan mereka. Duh…cape deh…gak orisinal banget sih tuh Negara.
Semoga bermanfaat! Maaf blum bisa mengungkapkan data yang valid (seperti dari buku atau semacamnya).
Thanks to Pak Pindi Setiawan (Dosen saya yang luar biasa dan amat sangat jatuh cinta dengan Kalimantan); partner perjalanan saya, Nadia Mahatmi(yang membantu mendeskripsikan Sangatta yang menurut saya kelewat biasa dan gak tau neejelasinnya gimana); dan Pak Ketum saya, Mohamad Haekal (yang menjelaskan kenapa yang muncul di otak saya rumah gadang, karena saya baru saja melihat fotonya di Fb dan dia menerangkannya! :) )

1 Sebetulnya pembangunan jalan menuju Bukit Pelangi direncanakan berkonsep “jalan layang"/ jembatan yang membelah rawa Sangatta. Hal ini dimaksudkan untuk membuat sirkulasi air tetap alncar dan tidak menimbulkan genangan seperti yang telah diungkapkan sebelumnya. Hanya saja, sehubungan Sangatta merupakan kota kecil di Kalimantan Timur (kurang lebih 4-5 jam dari Banjarmasin), dana yang terkait untuk pembangunan jembatan ini luar biasa besar. Yah, masalah klasik: dana. Pejabat setempat mengatakan “buat bikin jalan doang kok mahal amat ya?!”. Yah..terserahlah. Saya jamin sih (melihat kondisi sekarang) jika dibiarkan dalam 3 tahun kurang jalannya akan total rusak akibat rawa gambut yang ber-nitrat tinggi. Well, you pay the cause, you gain the result!