Tampilkan postingan dengan label komunikasi. Tampilkan semua postingan

INGRESS. Claim your teritory, create your own story, build a history...



INGRESS.Claim your teritory, create your own story, build a history...

Not so long ago, Google’s acquisition of Niantic Labs earned them a remarkable real-time game called Ingress. I won’t write any history about how this game was built. Yet, I might tell you a little background from the game story that is considered as a base to build your own story, and some particular things related to the gameplay itself. And yes, all of you can create a story. But the best of it is that you are not alone. It is you with your community -called faction- that can create a history.


In the game I am ArkaDeva. A Level 8 lady. Although I am an Enlightened agent, I will write as a non-faction :p

*

Firstly, I want to let you know that my writings do not represent the whole storyline in which most major country play ingress. I might mention some, but I will emphasize stories from my own home land. An archipelago named Indonesia.

The Ingress gameplay is basically about domination : portal domination and coverage domination; how many you can get, how big you can create, how far you can go. Owh..don't forget about how good your coordination is. The best part of this game besides exploring an area thoroughly is that you can go out on your own (be a solo player) but at some point in the game you cannot advance without others. Yes, ingress forces you to interact with other agents. To join up, to team up, to communicate, TO CONNECT.

Ingress does not have characters --unlike some other games. There are no swordsman, acolyte, hunter, or else. There are only 2 factions : the Enlightened (green) and the Resistance (blue). By default, we -human- are all resistance. *see the explanation about the faction here* There's no right or wrong, good or bad. It is about what you believe. And everyone have their right to claim their beliefs.

Basicly, all agents (players) have a same ability. Nothing differentiate them but color and the background story. Enlightenment is an alliance of Shaper, an unknown creature who brings Exotic Matter (XM) through portal existence. Some say, Shaper brings knowledge while others say it want to do Ingression to the earth, to take over mankind *hey,you find where the name Ingress come from ;) *. Resistance, on the other side, have strong belief in humanity. They said, we, human, do not need Shaper’s power and against its existence on earth. If you want to take benefit from Shaper’s knowledge, you are an Enlightenment. But if you refuse the Shaper on this mother earth, you shall join Resistance.

The way you play the game and communicate with other agents define your character. That's why I like to say that while playing ingress, the character is you. The game might be virtual, but the achievements are very real.

Playing a new character very differently than your true self in real life? Go ahead. Ingress is a big enough stage for theatrical acts. Even if your real character doesn't fit to any antagonist preference, you can build one. Since you define the antagonist by yourself, the curtain is always open.

This option, however, gives super broad probabilities for agents (players) to build their presence in the Ingress world: how you want to be known by others--which surprisingly affect others' perception about your real life character.  


Audiences don't fall in love with plots. They fall in love with characters. Unforgettable characters."

Misinterpretation often happens. Conflicts spark up. Good if it happens and stays only in the COMM chat room but sometimes it is dragged into personal (real life) conflicts. Yup. It happened to some people. Hopefully only to a very few.

The same conflicts, though, create stories. Some are told over and over through a faction's generation, some are remarkable histories. Stories based on conflict mostly happened because of character influence. IMHO a faction's achievement rarely hatch conflicts. It raises competition -- which is good. Well, some stories raise up because internal issue. Could be a problem, could be a mission.

When I started to step into this parallel world, I was recited a story about eosmate (well, it is basically because I am enlightened), galesh, confrontation between some agents and what lies behind it, achievement that were made (some achievements were not strong enough to be memorized as a history though :p), etc. What story have you heard when you join a faction? Would you like to share it? ;)

Some stories become hyperboles, although the events were real. It is you who decides whether to believe it wholeheartedly or just accept it as an event. Haha ;) Drama is always added to the story.

Those stories and histories draw emotional bond between agents and their factions. To be in the community, to be involved in a mission, to be a family, to write another (his)story, that is what it means to be an agent.

If the stories doesn't motivate you enough, you still have the actual game mechanism to be achieved : leveling up, experience to be gained by attacking and capturing portals and create control field.

Ingress is still in beta, they say.

A player's level maxed out at level 8 yet their AP (experience point) is continues to grow. The question is "what's next?" What happens after level 8? Or maybe the question should be "what will you do after achieving a level 8?" Will you just stop?

Although you don't need to be a L8 agent to write a story or be part of it, this question often haunts. Some lose their motivation while others focuses to leave a mark in a faction’s history. Which one will you choose?

Ingress only provides platform. The rest is user generated content. The rest is up to you.


*

So, what are you waiting for?

If you haven't sign up as an agent you can ask to get invitation from Ingress website or contact your local agent (in Indonesia you can contact here). Find the community in G+. This is my community. And this is one of our history (i am the video editor ;) )


Become an agent.
Claim your territory, create your own story, build a history.
INGRESS


Future reads (external permalink)


*

Future article :
Ingress segmentation player finding

Marissa Haque dan Belahan Dada

Baru saja kemarin, berita heboh menyebar di online soal blog Marissa Haque yang berisi “curhatannya” tentang tingkah laku Vina Panduwinata. Linknya bisa dilihat di sini. Ini bukan merupakan postingan baru, tapi lebih ke postingan lama. Tercatat bahwa postingan itu dibuat pada 9 Agustus 2010, alias kira2 3 bulan lalu.Intinya isinya kurang lebih keluhan atas sikap Vina Paduwinata yang dirasa seronok oleh Marissa Haque dan itu mengganggu baik dirinya maupun suaminya (Ikang Fauzi).

Well, as we know, Marissa Haque merupakan salah satu anggota dewan dari Fraksi PDIP. Kalau melihat postingan ini, pasti kita rata-rata bilang “Mbok ya urusan mace mini ndak usahlah disebar ke public. Bukannya membuat jelek nama yang terkait di dalam postingan itu, malah menjatuhkan namanya sendiri.” Yah, gimana enggak, isinya antara marah-pasrah-hinaan tapi membandingkan, menyebut belahan dada berkali-kali, dan juga seperti cercaan.

So, kl mau think positive duluan, maka hal yang pertama terlintas di pikiran adalah ini black campaign (kampanye menjelek-jelekan pihak tertentu) dan ini bukan dilakukan oleh Marissa Haque sendiri. Tapi abis itu, jadi mikir lagi, blog ini udah sudah dibuat dari tahun 2008, a blog with consistent contents. Jadi, adalah usaha luar biasa jika ini merupakan sebuah black campaign dari dulu selama 2 tahun terakhir untuk sebuah kepura-puraan (termasuk pula didalamnya sungguh sangat tersturktur sekali black campaign ini). And the next question will be: What for?

Masih dengan asumsi pertama, saya masih agak nggak yakin nih sama blog ini. Ada beberapa poin yang saya soroti:

Penggunaan pola bahasa di berbagai postingan (yang sifatnya bukan kutipan artikel) seperti:
RBT Bukan Pengganti Album MusikBagi Musisi : Ikang Fawzi (Suami Marissa Haque)

Bagi saya yang melihat artikel itu sih, aneh, soalnya itu kan tulisan dari diri sendiri yah, kenapa gak bilang “…Ikang Fawzi, suami saya” alih-alih :ikang Fawzi, suami Marissa haque”. Meen, mereka bukan pasangan baru nikah kemaren sore juga kayanya..

2. Konten (terutama gambar) adalah konten yang sangat muncul di dapatkan via internet atau (kalau serajin itu) artikel di media (courtesy media lain).


Gambar-gambar positingannya sangat terasa dari second hand (pihak kedua) dibandingkan Marissa Haque sendiri.

3. Mayoritas konten merupakan re-post dari artikel berbagai sumber (bukan artikel jurnalis khusus seperti yang dimiliki website Pak Budiono.)

So, there comes 2 possibilities (dengan asumsi dia bukan pemilik blog ini):

1. Pemilik blog adalah seseorang yang sangat (bahkan mungkin fanatic berlebihan) terhadap Marissa Haque.

Bukan gak mungkin orang yang saking fans-nya mendalami dan menjelma jadi sosok idola sendiri. Banyak loh kasus gini di luar negeri *tapi saya lupa, jadi gak bisa kasih contoh*. So, yang ada mungkin saking menjiwainya, dia marah sama Vina dan Memes sampai membuat artikel seperti itu.

2. Pemilik blog adalah seseorang yang dikenal oleh Marissa haque sendiri dan merupakan admin untuk mempublikasikan seputar kegiatannya selama ini kepada masyarakat.

Ini juga mungkin, soalnya bisa saja orang yang memiliki blog ini seorang PR (public relation dari Marissa Haque sendiri) dan bisa saja menjelekan nama Marissa Haque sebagai bentuk protes atas hal tertentu.

Saya gakan bahas jika ini memang blog-nya Marissa Haque sendiri. Ya itu mah, yaudah lahyaa.. Saya mikir seperti ini soalnya saya sih gak mau di setir oleh informasi 1 arah. Lagian belum ada klarifikasi juga dari Marissa Haque sendiri. Perlu tuh akun2 tokoh seperti ini di “verified” kaya twitter, biar gak memancing persepsi dan perdebatan yang berujung pada tindak provokasi. Apalagi orang Indonesia kan demeeeen banget meneruskan informasi, apalagi yang macem gossip dan hal yang jelek-jelek. Lebih boombastis daripada pembicaraan mengenai hal2 yang baik2.

Yah, semoga nantinya (paling gak) diketahui kebenaran dari blog ini. Makanya, ada baiknya SETIAP tokoh terjun langsung di ranah online. Terserah deh buat politik pencitraan atau apa, yg penting dy jadi reachable. Exclusivity is sooo last year. So, entah dia pinter ato bodo, yang bisa memanfaatkan dunia online ini cendereng orang2 yang lebih vocal dalam membuat gerakan.

CMIIW.

Wallahu Alam bishawab

*cek juga artikel mengenai Parlemenku, Parlemenmu. Cerdas Kritisasi Wakil Rakyat Kita

*On.fb.me/kenaliwakilkamu

Parlemenku parlemenmu, cerdas kritisisasi

Tulisan ini sebenarnya antara prihatin sama kesal : prihatin dengan masyarakat sekaligus prihatin dengan parlemennya. Banyak tindak-tanduk parlemen/wakil rakyat kita yang pongah dan membuat jengah masyarakat Indonesia. Hal ini umumnya diakibatkan oleh kelakuan atau kebijakan yang mereka buat. Tapi saya juga seringkali sebal dengan tindakan masyarakat Indonesia yang latah, latah memaki dan memprotes tapi gak tau yang diprotesnya apa, bahkan bagi para akademisi dan kalangan terpelajar sekalipun.

Mungkin udah sering disebut sebagai reformasi kebablasan. Ngomoooong aja semua, gak dikontrol, gak disaring. Sedikit omongan cerdas, lebih banyak omongan provokatif. Gak sekedar soal omongan, reformasi tindakannya kebablasan, yang demo rusuh, yang di dalem parlemen rusuh..Hmmpfh.

Tapi (dgn modus praduga tak bersalah ---halah--) sebetulnya gak sedikit juga para anggota parlemen yang gak "mbelok". Tapi, biasa lah, karena nila setitik, rusak susu sebelanga. Yang belang idungnya, yg disalahin tetep aja orang/badannya. Sama aja kayak DPR, orang-orang yang lalai-nya berapa, yg di cap jelek smua-mua. Semoga memang masih ada bibit orang2 benar di dalam sana. kalau gak ada, entah negara ini mau dibawa kemana.

Sebenarnya ada sedikit ketakutan di dalam diri saya sih (mohon partisipasi anda setuju atau tidak akan kekhawatiran saya). Jika keadaan seperti ini terjadi terus menerus : parlemen dianggap sebagai biang kebobrokan dan masyarakat dengan mudahnya menyalahkan pihak2 tanpa informasi yang relevan, bukan gak mungkin sistem parlemen kita gakan pernah dipercaya lagi sama masyarakat. Yang lebih ngeri lagi, karena masyarakat yang gak jeli ngelola informasi, pihak-pihak yang sebetulnya bersalah dalam merusak tatanan pemerintah sebelumnya malah justru terpilih lagi dengan trik-triknya karena kesalahan di masa lampau hanya dilimpahkan kepada badan, bukan perseorangan. Padahal mungkin jika pandai mengelola informasi, kita bisa memilah mana sbetulnya pemberitaan yang menjurus, mana yang tidak, mana yang sebetulnya (dirasa) bersalah, mana yang bukan. Keadilan dan kritisasi harus datang dari diri kita sendiri.

Dengan laju informasi yang sekarang, kadang saya merasa aksi provokasi menjadi jauh lebih mudah, siapapun targetnya : rakyat kalangan bawah, mahasiswa, tokoh, kalangan atas, dsb. Apa lagi dengan era 2.0 sekarang, semua manusia dapat mengungkapkan pendapatnya di dunia maya (tak terkecuali saya), sementara informasi yang datang itu gak pleketiplek (utuh). Informasi sata ini tuh datang sedikit-sedikit, sepotong-sepotong, lebih mentingin kecepatan waktu daripada validitas berita.

Contohnya aja twitter, yg membatasi dg 140 karakter. Beda penggalan kata, beda pula maknanya. Kita gak tau kan kapan orang melihat si informasi yang disiarkan itu potongan ke berapa-nya. Yang ada kl gak infonya menarik, ato sepemikiran langsung sebar aja, gak di re-check. kalau ada salah, meski informasi bisa disebarkan lagi, kan tidak dapat meng -undo kejadian sebelumnya. Belum lagi target ralatnya belum tentu ada di tempat ketika ralat disebarkan. This world goes so fast dude... Beware for its speed.

Satu contoh yang berkaitan dengan parlemen. yang lagi hot-hotnya nih, soal si studi banding ke negara-negara Eropa kan ya. Yah, seperti yang saya bilang sebelumnya, mungkin diantara lawatan itu ada yang benar, ada yg hanya kedok. Tapi, dari mana kita tahu mana yang benar mana yang kedok? Sebetulnya hal itu bisa kita cermati dengan mengerti awal mulanya: bagaimana si program lawatan ini bisa ada dalam agenda kerja mereka. Gak mungkin kan pergi ke tempat ginian cuma direncanakan dalam sebulan. Semua orang yang pernah ngelola organisasi pasti tau ketika mau mengadakan kunjungan, itu seharusnya ada dalam Program Kerja yang telah diapprove di awal kepengurusan. Justru nih yah, harusnya kita awasi dari awal sini. Harusnya pengajuan rencana ini pun denga perencanaan dan proposal kan? Moso acara ginian insidentil sih. *keplaak* Entah emang saya yang kurang merhatiin ato dari DPR nya sendiri gak sosialisasiin, baik via berita atau media apapun. Tapi yang namanya program ini seharusnya transparansi dari awal.

Mengaca dari kejadian si kunjungan-kunjungan ini, harusnya sih mereka langsung mengklarifikasi secara DETAIL terkait dg kunjungan ini pada mass media. Gak cuman sekedar bilan "mau survei inih, titik" Lha... itu duit rakyat kan yang dipake? Intinya sih transparansi dari siapa aja, tujuan, agenda, dan ketika pulang, langsung kita tagih LAPORAN EVALUASI ACARA. Well, itu harus dipertangung jawabin ke seluruh indonesia loh.. *membayangkan 1 stasiun tv menyajikan LPJ DPR :))* Well, it's better than nothing at all. Tah, kl gitu kan jelas, yg miring bisa dianggap miring, yang lurus bisa tetap dianggap lurus. Harusnya tugas PR (Public Relation) komisi per DPR nih... *eh, tapi mereka punya gak yah?*

Oh iya, kembali ke lawatan dan hubungannya dengan bencana di negeri ini. Seringkali sih saya mikir, ngapain juga orang-orang itu diminta pulang pas ada bencana (bukan karena mereka mending diusir skalian lho). Emang sih, kalau pulang dan mendatangi tkp korban bencana bisa dianggap simpati, but MEEENN, pleeasee, gak sekedar kunjungan doang yg dibutuhin, tapi aksi bukan? BAlik lagi jug ake soal perencanaan lawatan, bahkan mungkin ketika sebelum/mereka baru nyampe, sebanyak apa dana yg telah mereka spend. Hal ini jg bukan hal yang serta merta di cancel. Selain pertemuan, mungkinn sudah ada deal sesuatu yg tak bisa dibatalkan. Dan kalau di cancel terus uangnya ilang aja gituh? In bukan berbicara tentang 1-2 juta rupiah, ini ratusan juta/lebih. Belum biaya tambahan yg harus dikeluarkan karena mendadak di cancel. Hmm. Mending biaya kayak gitunya langsung disalurin ke korban deh daripada ngurus kepulangan mereka. Dan lagi pula, udah ada yg namanya teknologi buat kimuniasi mauupun koordinasi. Gitu aja kok repot. Kecuali memang dia punya jobdesc yg mewajibkan dia ada langsung di lokasi bencana si, ya silakan, tapi kalau cuman pulang hanya untuk menunjukan simpati, hey rakyat, BE LOGIC! Kaya gada staff yg ditinggal disini buat ngurusin sesuatu aja. Ibaratnya kita peduli pada korban bencana wasior, mentawai, etc, gak mesti kita menunjukan kepedulian dgn langsung datang kesana bukan? Ada yg kesana sih, tapi perwakilan. dan hal ini pun berlaku untuk bahasan di atas.

Yah, saya ngaku juga kalo saya telat dan menetapkan diri mulai sekarang menjadi lebih peduli dan kritis atas semua ini. MEngkritisi itu gak cuman bisa protes loh, tapi cerdas dan mengetahui landasannya dari berbagai angle, dan berbagai sumber, baik sebagai subjek, maupun objek.

Semoga kita semua menjadi lebih cerdas dalam mengkritisi .

CMIIW..

Big Hello from MEGATRON Slipi

Bagi warga Jakarta barat dan sekitarnya tentu tidak asing dengan kawasan Slipi. Persimpangan ini terbilang ramai dn menjadi salah sau spot transit penumpang menuju berbagai jurusan baik dalam maupun luar Jakarta. Baru baru ini terdapat ebuah pemandangan baru di sebelah kiri jalan bila kia datang dari arah semanggi. Sebuah MEGATRON. Kenapa saya menulisnya dengan huruf kapital? Coz it is really BIG thus very bright. Pokonya, dari pojok mata balakan notice dah karena nyala lampu dan kontrasnya yang maksimal terangnya itu.

Saya sendiri kurang begitu inga akapan megatron ini diaktifkan. Anggaplah Januari 2010 (karena saya mulai aktif menjadi kommuter Jakarta sejak saat itu dan tiap hari pasti melewati daerah Slipi). Empat bulan telah berlalu sejak megatron itu dinyalakan. Tapi hingga kini, belum ada 1 ikla pun yang pernah tayang disana so far. Hmm.. sebuah point of attention yang berada pada titik strategis dan dilewati berbagai kaum namun tidak dilirik pihak iklan? Pertanyaan? I got some opinion :D


By the way, bagi yang belumm tahu megatron itu apa, akan saya jelaskan sedikit. Megatron adalah sebuah istilah dalam bahasa Indonesia lho, karena kita gak akan nemuin kosakata ini dalam bahasa Inggris. Bukan pula rivalnya Optimus Prime dalam film kenamaan Michael Bay, Transformer. Megatron adalah sebuah TV raksasa yang ditempatkan di outdoor. Umumnya megatron berukuran sebesar billboard dengan menggunakan teknologi LED TV. Megatron sendiri berfungsi sebagai media viewer motion-visual. Suara sendiri tidak di support untuk hal ini. Daripada seuah image/gambar yang still layaknya pada billboard biasa, GERAKAN, tentunya akan mengambil perhatian yang lebih banyak bukan?

So, back to the topic. So why there haven’t been any products advertise on that megatron. Budget? Well, even though megatron costs more than ordinary billboard that already expensive, I don’t think it is the main problem. He problem is on the communication itself. In what era we live right now? Information (yes), technology (yes), and internet (absolute yes). People bring their Internet everywhere: on their mobile phones, notebooks, modems, blackberrys, and so on. Have you guys ever realized that nowadays people are tending to look downward instead of upward? Yes, we talk about mobile/smart phones, which steal the attention more than any other things on the world. Have we talk about target audience? Hmmm.. not yet.. So, lets talk about it now.

Jika kita kemabali menilik target audience si megatron, anggaplah mereka ingin menembak target market yang berlalu lalang di Slipi sana. Lalu, siapakah yang berlalu lalang? Mari kita bagi berbagai kategori.
1. Saya, kommuter yang tiap hari pulang-peri Jakarta-tangerang dengan menggunakan bis kota (bis besar),
2. Orang orang yang membawa mobil sendiri untuk bekerja (menyetir mobilnya sendiri);
3. Orang yang duduk di jok belakang mobil sementara mobilnya dikemudikan oleh supir;
4. orang2 yang hidup di skitar dan beraktivitas di sekitar slipi (which means pengamen, pedagang di sekitar, peminta-minta)
5. Dan perlukah saya memasukan polisi ke dalam list ini karena mereka intens mengatur lalu lintas di slipi ;p

So, back to its target. Which of them that megatron shall attract? Yah, memang itu balik lagi ke produknya sih, tapi saya ingin menyoroti hal ini deh. Megatron itu agak sulit (kurang tinggi) bila dilihat dari arah jalan tol. So, saya berkesimpulan itu memang ditujukan untuk konsumsi para pengguna persimpagan slipi. Tapi, ya itu seperti yang saya bilang sebelumnya: nowadays people are tending to look downward instead of upward, even the middle-low economic one.

Jika dia (megatron) mengincar kaum kommuter macam saya, well, jujur aja, saya akan lewat kawasan itu sore menjelang malam atau malam (yah, jam pulang kerja lah). Kondisi fisik saya satu: capek. Sebagai kaum kommuter yang menghabisakan banyak waktu dijalan. Waktu di bis umumnya dimanfaatkan sebagai waktu tidur. Kecuali emang gak ngantuk banget yah, biasanya diisi mendapat informasi kayak baca buku. Dan sekarang yah, tiap pulang kerja, saya hampir gak pernah liat orang yg gak tidur/baca buku melong (melong—re:bahasa sunda : diam melihat ke suatu arah dengan kosong) ke luar jendela. They hold their phone and start to text (sms) someone, or moreover: browsing. Yes, it is an issue that should be forgotten by the media. Internet is everywhere and it is addictive. Yang amen hape itu gak cuma yang duduk loh. Banyak yang berdiri sambil gelantungan tetep fesbukan, tetep twitteran, ato tetep detik,com-an. And it is for real.

Dan saya rasa kemungkinan hal yang sama juga terjadi pada target nomor 2 dan 3 dari list kita di atas. Apalagi yang duduk di bangku belakang yah, mereka biasanya malah buka laptop. Yang liat ke depan ato kiri kanan itu supirnya. Paling liat samping kalo ada tukang jualan atau pengemis ngetok2 jendela, piye toh?

Dan target nomer 4. Paling mungkin sih..

So, bukan berarti dari 3 target market yang pertama disebut itu gak bakal ada yang liat sama sekali, tapi manurut saya, untuk era sekarang ini, kesempatan itu sangat kecil adanya. Kl jaman dulu hp belum canggih dan internet belum all access sih kerjaan kita kalo di jalaan emang merhatiin benda2 di skitar dan luar kendaraan kita. Tapi sadarilah men, people change, their behavior have changed since a new technology named internet (especially social media) came. Conventional media should consider it as the competitor. Less cost, high impact. Itukata Hermawan Kartajaya. Saya berani jamin, uh megatron bisa nyentuh harga M sewanya. ratus juta gede lah. So, if a brand spends so much money ONLY for its publication, so how much money it will spend for the whole campaign? Dan untuk produk yang memang target marketnya orang-orang bawah macam itu, akankah budgeting campaignya sebesar itu? Hmmm? I m not sure about that. Ujung-ujungnya saya rasa yang bakal ngiklan disana kayaknya rokok doang deh. :P.


Udah mah mahal, boros energy (bo, ya tipi nyala terus2an kan boros listrik, gak green design deh :p), dan kalo gini kasusnya, target marketna jadi gak fleksibel, gak strategis (Padahal gue yakin dibikin disana biar menjangkau dari bawah sampe atas, tapi jadinya kalo gini targetnya yang paling efektif dan efisien itu kelas bawah malah).