Tampilkan postingan dengan label branding. Tampilkan semua postingan

Winning consumer shopper's heart by @ariefshopper

Blogpost ini merupakan kompilasi tweet dengan tagar .
Super thx to Bu  Sri Daryanti atas tweet nya dan Pak Arief E. RahmanSr Manager Shopper Practice APMEA Nielsen Indonesia. Meski bukan anak UI dan gak kenal orang-orang ini, tapi super makasih buat ilmunya :D



Terdapat dua konsep: Brand Marketing dan Shopper Marketing. Brand marketing: deals with demand creation. Shopper marketing: deals with anything related to purchase impuls. Shopper marketing's main task is to ensure consumer's demand (the output of Brand Marketing) turns into profit. Great brand marketinginvestment may or may not turn into purchase, because there are many challenges in shopping floor.


Shopper marketing is about communication activities at point of purchase,targeted at subsconcious level of shopper's mind. It is about :  Presence, navigation, confirmation. Tools:displays,POP,in-store promo&activation,sampling Result:purchase, more.


Brand Marketing ask 4: awareness,comprehension,desire to brand. Tools: TVC,brand event,ad,Result:TOM,preference,desire.  Brand/Mktng Consumer berada pd tahap pre-store dan consumption. Sedangkan Shopper Marketer berada pada tahap in-store.


Studi kasus: 
Let's talk about the shopping case:snack,yg memiliki variasi yg banyak,sehingga kemungkinan disruption saat ditoko utk brandswitch. Saat di toko,ada bbg macam cara dr shopper marketer utk men-disrupsation kepala konsumen utk membeli suatu brand\switch. Shopper mkting executed (mostly) by sales team,communication to people as purchasers, trigger immediate purchase impulse. Some key terms in shopper mrktg:in-store promo,planogram,SKU,Shopping mission and basket,modern/general trade,end gondola. Sedangkan packaging design dan usage behavior adl terms yg berada pada irisan domain:brand marketer jg shopper marketer.


 Premise-premise dalam Shopping Behavior


Premise 1:
Immediate surrounding affect human's subconcious mindset.Human beings act differently and different social and spatial settings. Environmental aspects:each social&spatial space triggers different subsconcious aspect.Co:susunan rak,sepi/ramainya toko.


Premise 2: 
Subsconcious mindset affect attention span and top of mind recall.Tantangan bg marketer adl mmbuat nyaman konsumen. Main tasks of shopper marketer:take the challenge,get theAction,induce behavior,result:optimize shopping basket+buy more. 


Insight from  is to be used for in-store merchandising,to triggers immediate awareness,intention to purchase. Terdapat banyak distractors di dalam  toko terhadap shoppers.Di dalam toko yg trjadi adalah komunikasi intrapersonal & artefak dg barang2 toko.


Shopper habitat as context for . Hrs ada pembedaan antara komunikasi pre-store dan komunikasi in-store, shg bersinergi. Data colection in : a. what shoppers actually do (see,touch,hold,sniff,shake,etc):aisle observ,video,aisle exit intercept.


--Teknik Shopper Research:  what shoppers actually bought (category,brand SKU), home-research, etc


Technologies are important in : a. record the shoper in-store: video ethnoghraphy, in-store heat map, what shoppers see and fee: by mobile eye-tracking, neuro testing, shopping smulation by virtual store as virtual shopper.


Shopping Mission/Pola Belanja

  1. belanja rutin (bulanan), 
  2. top-up, 
  3. meals for today,
  4. for a special event, 
  5. immediate consumption,
  6. emenrgency shopping,
  7. special offer,
  8. leisure shopping

Uniquely Unilever, uniquely Indonesia

CSR (Corporate Social Responsibility) adalah bagian integral dari marketing campaign 360 derajat kami. Untung – tidak untung, akmi selalu menekankan misi social dalam marketing kami. Kredo kami, :doing good is the good for the business:. Dicky Saela-Marketing Manager SCC & Savoury Unilever Indonesia

Menarik sekali, membaca sebuah artikel di sebuah majalah lawas (Marketing xtra MIX No 10/v/20-okt-16 okt 2008) membuat saya tertarik membuat artikel ini. Sebetulnya artikel aslinya lebih mengangkat perkembangan brand dari produk food si Unilever, tapi yang ingin saya angkat bukanlah itu, melainkan How they settle the strategy to promote the brand.

Sejauh yang saya tahu, Unilever adalah salah satu raksasa perusahaan di Indonesia. Berdiri sejak 1933 di Indonesia dan merupakan bagian dari Unilever Internasional. Memiliki beberapa divisi utama yaitu : food brands, home care brands, personal care brands, nutrition, health, hygiene & beauty brands..

Our mission

Our mission is to add Vitality to life. We meet everyday needs for nutrition, hygiene and personal care with brands that help people look good, feel good and get more out of life.www.unilever.com

Sementara itu, Unilever Indonesia dalam websitenya mengatakan :

Tujuan & Asas

"Standar tertinggi etika perusahaan terhadap setiap karyawan yang bekerja di perusahaan kami, masyarakat sekitar dan lingkungan tempat kami melakukan kegiatan usaha."




Lingkungan & Masyarakat

Komitmen untuk mengelola dampak sosial & lingkungan.


Nutrisi, Kesehatan & Perawatan Pribadi

Kami menciptakan makanan yang bermanfaat terhadap kesehatan.


Ilmu Pengetahuan & Teknologi

Inovasi untuk memenuhi kebutuhan masyarakat


Karyawan Kami

Kami lebih menganggap Unilever sebagai komunitas.

Bila dicermati, dapat dikatakan semua iklan tentang produk unilever adalah bersih (meskipun misalkan di dalamnya ada adegan kotor-kotoran seperti di rinso). Hanya saja, pembawaan visual nya sendiri terlihat bahwasemua rapih dan bersih. Namun yang mungkin akan saya bawa lebih lanjut adalah mengenai Food Brandnya, selain karena artikel ini merujuk pada arikel yang saya baca (yang memang mengangkat food brand di Unilever) dan pernah sedikit bekecimpung di dalam pembuatan iklannya.

Berdasarakan artikel di majalah MIX, disebutkan bahwa “…selalu kampanye kami, selain menggerakan masyarakat , tetapi juga memberikan sesuatu kepada masyarakat. Artinya kami tidak melulu jualan. Kami ingin jadi prefer choice untuk kostumer, consumer, dan community. “ Adeline Ausy Setiawan-Marketing Manager Snacks and Beverages. Sebagai contoh , Sariwangi, sebagai brand lama the celup pertama di Indonesia, maka positioning-nya mengenai kebersamaan dan kampanyenya pada 2008 adalah “Mari Bicara”. Untuk Taro, kampanyenya adalah “ Markas Petualangan Taro” yang diambil atas dasar kebutuhan anak Indonesia untuk bermain berpetualang. Sementara Buavita, brand yang akhirnya diakuisisi Unilever, mengedepankan kampanye “Gerakan makan buah di masyarakat”.

Dari tiga brand di atas, dapat kita lihat bahwa pesannya adalah sesuatu yang memang benr adanya. Hanya saja ini memang dikemas dalam bentuk komunikasi marketing postif karena berkaitan isu dan normative yang ada di dalam masyarakat. Sariwangi contohnya. Yang saya lihat dari “Mari Bicara” adalah segala sesuatu dapat diselesaikan dengan diskusi, tanpa harus ada kekerasan kericuhan dan percekcokan. Taro mungkin merupakan feedback atas anak jaman sekarang yang terlalu “dunia maya” : CS, PS, XBOX, PSP, GBA sehingga kegiatan bermain mereka lebih bersifat maya dan pasif, bukan aktif sesuai dengan perkembangan umur mereka. Buavita pun menyerukan pesan yang sama. Memang pada akhirnya promosinya adalah buavita sama dengan buah segar, jadi alih2 buah beneran, kita meng-konsumsi buavita. Tapi toh pesannya memang sangat baik. Orang terlalu sibuk makan makanan jadi dan junk food samapii-sampai melupakan buah kan?

Dicky Saela menyatakan “Marketing strategy kami itu selalu menekankan apa misis sosiial dari brand tersebut”. Blue band menekankan pada “Setiap anak berhak mendapatkan nutrisi yang baik “ dan bekerja sama dengan WFP (World Food Programe). Bango sebagai kecap memiliki misi melestarikan wisata kuliner nusantara. Royco, berdasarkan yang dialami oleh saya, menekankan pada pentingnya makan bersama dalam keluarga karena pada saat itulah saat saat kita berkomunikasi dengan seluruh anggota keluarga. Hmm, masuk akal dengan segala kehidupan yang super-sibuk abad ini.

What an angel mission, even though in the end the message itself considering accepted by the audience or not depend by the visual and ads execution on the media and activation. Hei, betapa indah bukan dunia jika semua brand di dunia gak melulu hard selling?

Well, maybe gak hanya unilever. Djarum Black mengangkat isu kreativitas sebagai tombaknya. Api ini kan emang rokok. Mereka memang harus mempunyai image sendiri karena itulah yang dijual mereka pada pasar sebetulnya, bukan rokoknya, tapi image-persepsi yang ditangkap oleh target audience.

Wah, ngomongin ikaln eang gada abisnya. Selain visual yang digodog di creative, emang ada baknya strategi dari awal itu emang udah GOOD PURPOSE. Dan menemukan good purpose ini gak gampang loh. Jual-jualan mah bisa ambil product knowledge, tapi CSR yang nge-blend dalam promosi produk itu sendiri adalah hal yang sangat cantik. Mungkin hal ini kini banyak diaplikasikan pada produk-produk green design (yang melulu soal lingkungan). Tapi ini bisa jadi bahan inspirasi produk lainnya untuk menggali strategi marketing yang positif, yang tak sekedar mendorong masyarakt untuk membeli produk, tapi juga menangkap pesan social di belakangnya, bukan sekedar product knowledge. Dan, “gak kotor gak belajar”,kembangkan lah kreativitasmu sampe ide terjelek dan terjahat juga boleh tapi jangan berhenti untuk menemukanide yang baik. Kita semua butuh trial and eror dan pengalaman untuk belajar!


sumber:

www.unilever.com

http://www.unilever.co.id/id/

Marketing xtra MIX No 10/v/20-okt-16 okt 2008


World Press Photo Seminar: Session 1

What Make Great Picture: Learning from Cultural Psychology

Speaker:

Dr. Phil. Eric Santosa,

Market Ethnographer & Strategic Planning specialist

Moderator :

Sinartus Sosrodjojo,

Head of Artistic And Photography Division in Media Indonesia, Pannå Institute

Something that can be an inference of this seminar is: life is all about advertising and seeing something in different point of view. Mr. Eric mostly talked about typical photo that make audience feel disturbed emotionally using he preposition of branding. That’s why I told this world was all about advertising and the way of see.

The method of this seminar was mostly like sharing problems: the world press photography winners it elves as the study cases. He verified some theory that works in judging the content of the photograph but also took the audience viewpoints.

From this point, I will use Bahasa so that I can explain it better.

Pak Eric paling banyak membahas mengenai cara pandang mengenai suatu gambar (dalam hal ini adalah foto) sehingga menghasilkan suatu judgement atau penilaian yang membuat foto itu menang dalam “kontes” ini. Bagaimana tingkat kedalaman yang ditinggalkan oleh foto tersebut dan isu atau informasi apa yang terkandung di dalamnya.

Belau mengatakan, foto-foto yang berhasil di World Press Photo adalah foto-foto yang menarik audience untuk menyelami isi dari foto itu sendiri lebih lanjut. (Great pictures are aesthetic, drawing viewer, urging them to learn more about the story the picture tells.) Tentang kejadiannya kah, tentang subjeknya kah, apapun. Mereka tidak akan meninggalkan foto ini tanpa mengetahui lebih lanjut ceritanya. Story telling sendiri merupakan seni penyelewengan terhadap hal hal yang diterima masyaraqkat pada umumnya (Storytelling is an art of violation of canonical world of the audience). Intinya adalah bagaimana menyingkapi suatu cerita dari sisi yang lain, bahkan mendobrak apa yang selama ini terdapat stereotip di benak masyarakat. Buatlah paradoks, buatlah ironi.

Foto-foto yang memiliki kecenderungan untuk memaparkan seluruh informasinya secara blak-blakan dalam visual justru mengakibatkan kurangnya “bound” antara audience dengan foto oti sendiri. Untuk itulah, pengunjung world press photo pastinya akan membaca caption dari tiap-tiap foto untuk mendapatkan info lebih lanjut. Dapat dikatakan tiap foto memberikan informasi yang belum lengkap dan kelengkapan itu ditangkap audience sebagai suatu kebutuhan akan informasi lebih atau spekulatif dan berimajinasi tentang kemungkinan kondisis yang terjadi. Hal itulah yang mengakibatkan foto ini memasuki fase lebih jauh di otak karena otak terangsang untuk lebih interaktif terhadap foto ini dan bukan sekedar melihat saja. —menutupi sebagian, what an ads concept

Selain itu, kecenderungan foto jurnalistik saat ini adalah memperlihatkan kekerasan : darah, perang, penganiyayan, dengan tipikal yang sama. Sering kita temui foto yang sama pada beberapa media pemberitaan. Hal ini dikarenakan ketika mereka menemukan suatu kejadian, mereka berbondong-bondong memotret hal itu, yang berakibat pada foto yang kurang lebih sama baik isi ataupun gambarnya. Kecenderungan untuk melihat sisi yang berbeda itulah yang jarang terjadi.

Tapi ketika kita melupakan itu semua, darimana kita tahu bahwa gambar itu memiliki pemikiran mendalam atau tidak? Tes sederhana yaitu you can/want/never bore to see the photos once, twice, again, and over again, whether it contain positively or negatively. Melihat dengan postitif maksudnya kita menyukai foto yang ditampilkan, sementara melihat dengan negatif mungkin kita akan merasa “foto itu jelek banget sih,” but you will talk about it over and over again. *mungkin mirip dengan saking sebelnya kita ke iklan ron car :p

Selanjutnya dijelaskan cahwa pada dasarnya, ada suatu inti cerita dasar dari setiap isu-isu yang diangkat. Ibaratnya, ini merupakan premis mayor, tema besar, moralitas utama yang diangkat di world press photo. Kesemua hal itu dinamakan archetype.

Archetype dapat diartikan sebagai pola dasar, paradigma, prototype, dasar pemikiran , yang kemudian nantinya diterjemahkan kedalam elemen-elemen dan eksekusi visual. Archetype kemudian dibagi menjadi 12 :


1. Innocent

2. Orphan

3. Warrior

4. Caregiver

5. Seeker/explorer

6. Destroyer/outlaw

7. Lover

8. Creator

9. Ruler

10. Magician

11. Sage

12. Jester/fool


Suatu step yang terjadi jika karya itu bagus : engage then detail. Untuk mencapai tahapan itu, ada beberapa cara, salah satunya adalah dengan Juke Exposition. Juke Exposition adalah mengenai objek itu pas (fit) atau tidak satu dengan lainnya. Contoh mudahnya, objek utamanya dengan latar belakangnya, dst. Juke exposition didapatkan dengan memainkan 5 hal : aktor (Actor), aksi (action), intensi (intention),benda/peralatan (instrument), dan tempat (scene). Barulah dari sana kita bermain canonical type that can be violated.

Diskusi mengangkat mengenai persetujuan atau penolakan atas gambar-gambar yang cenderung lebih menarik dan segi kelayakan foto sebagai pemenang World Press Photo. Beberapa peserta mengemukakan pada dasarnya kecenderungan mereka (juri) memilih pemenang adalah pada isu yang subjektif. Sebgaia contoh, perang Amerika akan selalu menganggap tentara Amerika sebagai subjek yang menarik sementara bagi masyarakat Indonesia ini hanya tetntang tentara amerika saja, tidak ada ketertarikan emosi lebih jauh, serta bagaimana World Press justru diharapkan membahas potential issue yang mungkin pada saat itu belum terlalu terangkat namun pada saat ini diangkat secara luas (contohnya Global warming). Baik pertanyaan maupun tanggapan yang diberikan oleh moderator maupun peserta seminar memiliki muatan masing masing sehingga jawaban atau tanggapan atas foto-foto tersebtu betul betul menjadi suatu acknowledgment dalam seminar itu sendiri.

Meski dengan cukup panjangnya diskusi dalam topik seminar kali ini menyebabkan tidak dibahas lebih detail bahasan terakhir, yaiu mengenai teori psikologi tentang archetypal narratives that move people, paradise lost. Sayangnya saya tidak memotret bagan yang ditampilkan di depan, dan tak pula menemukannya di internet. :(

Mungkin 1 hal terakhir yang dipesankan oleh beliau, kekuatan jurnalistik masa kini ada di tangan kita semua. Kita dapat berkontribusi dengan segala yg kita punya: kamera, hp, pocket camera. Itulah yang dinamakan citizen journalistic.

Consequently, world press photo is an art of Journalistic photography: a synthesis of giving information by involving the audience into a restraint situation and how to take picture in original style in difficult circumstances, different from any other stereotype. A valuable seminar with competent speaker, proficient moderator, and formidable audience. Salut!

.rahmautami